Sangatta – Geliat ekonomi kreatif (ekraf) di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) tak hanya meramaikan panggung budaya, tapi juga sukses mengangkat daya tarik pariwisata lokal. Pemerintah daerah menyebut, sinergi antara event kreatif dan promosi wisata telah membawa dampak langsung terhadap peningkatan kunjungan dan geliat usaha mikro.
Kepala Dinas Pariwisata Kutim, Nurullah, menyatakan bahwa pendekatan berbasis ekraf kini menjadi strategi utama dalam memasarkan Kutim sebagai destinasi wisata yang berkarakter.
“Ekraf ini bukan pelengkap. Ia sudah jadi penggerak utama. Ketika ada festival, bukan hanya seni yang hidup, tapi juga kuliner, fesyen, foto, video—semuanya ikut naik,” ujar Nurullah.
Ia mencontohkan kegiatan seperti Lomplai, Festival Daya Kayang, dan Sekrat yang telah terbukti mampu menarik ribuan pengunjung. Di luar tontonan budaya, event ini juga membuka peluang usaha bagi pelaku UMKM lokal, mulai dari kuliner hingga produk kerajinan.
Menurut Nurullah, pemerintah kini aktif menyusun agenda wisata yang menyatu dengan program ekraf. Ini termasuk penonjolan budaya lokal sebagai daya tarik utama: dari makanan khas hingga pertunjukan adat.
“Kalau wisatawan datang dan pulang dengan membawa rasa, cerita, dan produk khas Kutim, berarti strategi kita berhasil,” katanya.
Lebih dari sekadar strategi promosi, sinergi ekraf dan pariwisata dinilai sebagai upaya jangka panjang untuk menciptakan ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan.
Pemerintah berharap dukungan komunitas kreatif, pelaku UMKM, dan masyarakat dapat terus memperkuat posisi Kutim sebagai daerah tujuan wisata berbasis budaya dan kreativitas.
“Kutim harus dikenal bukan hanya karena alamnya, tapi juga karena kreativitas masyarakatnya,” tutup Nurullah. (ADV/AN/Diskominfo).
