Samarinda – Menurunnya aktivitas belanja masyarakat menjadi perhatian Anggota Komisi II DPRD Kota Samarinda, Sani Bin Husain. Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu mengaku menerima banyak keluhan dari pemilik toko kelontong mengenai kondisi usaha yang semakin sepi.
Keluhan tersebut ia dengar saat berdiskusi dengan para pengemudi ojek dan pedagang di sebuah warung kopi di Samarinda. Dari berbagai masukan yang diterimanya, Sani menyimpulkan terdapat dua faktor utama yang memengaruhi kondisi tersebut.
“Kalau saya melihat hanya ada dua penyebab. Pertama daya beli masyarakat berkurang, kedua harga barang masih tinggi sehingga masyarakat menahan belanja,” ujarnya.
Menurut Sani, kondisi itu membuat pelaku usaha kecil mengalami tekanan karena jumlah pembeli terus menurun. Ia menilai persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya dengan menunggu program pemerintah, tetapi juga memerlukan kepedulian dari berbagai pihak.
Sebagai bentuk respon, Sani kemudian menggagas program kupon subsidi yang memungkinkan warga membeli sejumlah kebutuhan pokok dengan harga Rp10 ribu. Program itu mencakup LPG 3 kilogram, gula pasir, dan minyak goreng, sementara selisih harga ditanggung menggunakan gaji pribadinya.
Ia mengatakan program tersebut awalnya ditujukan bagi warga di sekitar tempat tinggalnya agar penyalurannya lebih terukur. Meski demikian, permintaan kupon terus berdatangan dari berbagai wilayah di Samarinda karena masyarakat merasa terbantu.
Sani berharap kondisi ekonomi masyarakat segera membaik sehingga daya beli kembali meningkat. Dengan demikian, pelaku usaha mikro seperti toko kelontong juga dapat kembali memperoleh pelanggan dan menggerakkan roda perekonomian di tingkat lingkungan. (ADV).
