Sangatta – Dalam rangkaian Pentas Seni dan Festival Adat Tradisi Kuliner Nusantara yang berlangsung di Polder Ilham Maulana, Sangatta, Kutai Timur, salah satu daya tarik utama adalah kehadiran Galeri Arkeologi Karst Kabupaten Kutai Timur. Galeri ini menampilkan koleksi benda cagar budaya yang menggambarkan jejak peradaban masa lalu di kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Timur, Padliansyah, mengatakan bahwa kehadiran galeri ini bertujuan untuk mengenalkan masyarakat pada kekayaan sejarah dan budaya lokal.
“Galeri Arkeologi Karst Kutai Timur menjadi salah satu media untuk memperkenalkan cagar budaya yang selama ini tersembunyi di balik keindahan alam Kutai Timur. Koleksi ini menggambarkan perjalanan panjang peradaban yang pernah ada di kawasan karst kita,” ujar Padliansyah.
Sejarah Galeri Arkeologi Karst Kutai Timur
Galeri Arkeologi Karst Kabupaten Kutai Timur bermula dari inisiatif seorang peneliti dan pemerhati karst, mendiang Dr. Pindi Setiawan, yang mengumpulkan benda-benda peninggalan prasejarah dari kawasan karst Sangkulirang-Mangkalihat. Pada 18 Juni 2008, galeri ini diresmikan oleh Bupati Kutai Timur saat itu, Awang Faroek, di ruang lobi Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Kutai Timur dengan nama Galeri Karst Kutai Timur.
Seiring waktu, pengelolaannya dipindahkan ke Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutai Timur, dan koleksinya dialihkan ke Rumah Adat Kutai Melayu sebagai tempat pameran. Kini, galeri ini tengah dipersiapkan untuk ditingkatkan statusnya menjadi Museum Cagar Budaya, dengan fokus pada pelestarian dan edukasi.
Koleksi Menarik di Galeri
Galeri ini menampilkan berbagai artefak hasil penelitian dari tahun 2003 hingga 2014, yang mencakup alat batu, alat tulang, fragmen gerabah, dan foto-foto cap tangan dari gua-gua di kawasan karst. Berikut beberapa koleksi unggulan yang dipamerkan:
1. Mangkuk dari Gua Unak
Mangkuk yang ditemukan di Gua Unak, Kawasan Gunung Gergaji, merupakan benda cagar budaya yang kaya warna. Dengan motif ornamen unik, mangkuk ini memberikan gambaran mengenai persebaran budaya dan teknologi pembuatan gerabah pada masa lalu.
2. Kendi dari Situs Keboboh
Kendi ini ditemukan di Situs Keboboh dan berasosiasi dengan kerangka anak-anak yang diperkirakan berusia 31.000 tahun. Penemuan ini menjadi bukti adanya tindakan medis primitif berupa amputasi, yang menunjukkan kearifan lokal masyarakat purba dalam bidang pengobatan.
3. Periuk dari Liang Jhon
Periuk sederhana yang ditemukan di Liang Jhon, Desa Tepian Langsat, diperkirakan berasal dari masa 12.000 tahun yang lalu. Periuk ini digunakan sebagai wadah aktivitas sehari-hari, dan keberadaannya menunjukkan pola hunian masyarakat prasejarah.
4. Tempayan dari Liang Karim
Tempayan ini berasal dari Liang Karim, Kawasan Gunung Gergaji. Fungsinya sebagai wadah menyimpan jenazah dan bekal kubur menandai tradisi penguburan masyarakat purba di wilayah tersebut.
Upaya Pelestarian Budaya
Pengelolaan Galeri Arkeologi Karst Kutai Timur saat ini menekankan pada rencana peningkatan status menjadi museum yang lebih representatif. Pemerintah daerah telah mempersiapkan lahan untuk pembangunan museum dan merencanakan diskusi kelompok terarah (FGD) guna mempercepat realisasi pembangunan ini.
“Kami juga akan membentuk Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Kutai Timur, yang akan menjadi mitra strategis dalam mengelola dan mengembangkan museum ini,” jelas Padliansyah.
Selain itu, pemerintah bekerja sama dengan berbagai pihak untuk mendukung operasional galeri dan menjadikan Kutai Timur sebagai pusat studi arkeologi dan budaya di Kalimantan.
Antusiasme Pengunjung
Keberadaan galeri di tengah festival ini menjadi magnet bagi para pengunjung, yang sebagian besar datang untuk mengetahui lebih jauh tentang sejarah Kutai Timur.
“Saya sangat terkesan dengan koleksi yang ditampilkan. Benda-benda ini menunjukkan betapa kayanya budaya Kutai Timur. Ini juga menjadi pelajaran bagi generasi muda untuk lebih peduli pada pelestarian sejarah,” ujar Santi, salah satu pengunjung.
Selain pameran arkeologi, festival ini juga diramaikan oleh berbagai atraksi seni, seperti tarian tradisional Magic Land, serta pameran kuliner khas Nusantara. Pengunjung dapat mencicipi hidangan dari berbagai daerah sekaligus menikmati perjalanan sejarah melalui benda-benda cagar budaya.
Pentingnya Melestarikan Cagar Budaya
Keberadaan Galeri Arkeologi Karst Kutai Timur menjadi pengingat akan pentingnya melestarikan warisan budaya dan sejarah. Sebagai wilayah yang kaya akan situs arkeologi, Kutai Timur memiliki potensi besar untuk menjadi pusat penelitian dan edukasi.
“Cagar budaya adalah identitas kita. Dengan melestarikannya, kita tidak hanya menjaga warisan leluhur tetapi juga memberikan kebanggaan bagi generasi mendatang,” kata Padliansyah.
Kehadiran galeri ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat Kutai Timur akan pentingnya menjaga dan menghormati sejarah, serta menjadikan festival ini sebagai ajang tahunan yang mempererat hubungan antar masyarakat melalui seni dan budaya.
