Sangatta – Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Timur, Fadliansyah, menyoroti pentingnya pelestarian seni tingkilan, salah satu warisan budaya yang unik dari masyarakat Kutai. Tingkilan tidak sekadar kesenian, melainkan tradisi yang kental dengan nuansa Islami dan penuh keakraban sosial. Dalam permainan tingkilan, para pemain harus bisa berbalas pantun sambil memainkan alat musik gambus yang disertai kendang dan gong, menciptakan harmoni yang khas.
“Tingkilan punya daya tarik tersendiri karena pemainnya harus berbalas pantun sembari memainkan alat musik gambus. Ini bukan hal yang mudah, tapi di sanalah letak tantangannya,” ujar Fadliansyah.
Tingkilan: Tradisi Khas yang Mulai Langka
Tingkilan termasuk dalam kesenian tradisional Kutai Timur yang saat ini semakin jarang dijumpai. Namun, masih ada beberapa daerah yang melestarikannya, seperti di Desa Tepian Langsat, Kecamatan Bengalon, yang menjadikan tingkilan sebagai daya tarik budaya lokal. Kesenian ini menjadi hiburan rakyat yang sering dipentaskan dalam acara-acara adat seperti pernikahan, khitanan, dan kegiatan pertanian.
Tingkilan diyakini sudah ada sejak abad ke-16, berkembang dari percampuran budaya Melayu dan Arab yang masuk ke wilayah Kutai Timur bersama ajaran Islam. Musik gambus, sebagai unsur utama dalam tingkilan, merupakan alat musik asal Timur Tengah yang dikenal dengan sebutan “musik padang pasir.” Suara merdu gambus diiringi kendang dan gong membuat lantunan tingkilan terdengar magis dan syahdu, sekaligus menjadi alat dakwah pada masa itu.
“Kesenian ini membawa pesan moral dan ajaran Islam, yang diharapkan bisa menjadi media pembelajaran sekaligus hiburan bagi masyarakat,” jelas Fadliansyah.
Tantangan Berbalas Pantun dan Nilai Budaya
Selain memainkan alat musik, tingkilan juga menuntut keterampilan dalam berbalas pantun. Para pemain melantunkan pantun secara spontan yang kemudian dijawab oleh pemain lainnya, menciptakan suasana penuh keakraban dan canda tawa. Pantun yang dibawakan umumnya berisi pesan-pesan tentang cinta, etika sosial, hingga nasihat kehidupan.
Permainan berbalas pantun dalam tingkilan sering kali menjadi ajang sindiran positif yang mengandung kritik membangun. Dalam tradisi ini, sindiran dilontarkan dengan jenaka dan tidak menyinggung perasaan. “Sindiran dalam tingkilan ini dimaksudkan untuk menyampaikan pesan moral atau kritik sosial secara halus. Dengan begitu, suasana tetap terjaga hangat dan penuh keakraban,” ujar Fadliansyah.
Pemenang dalam permainan ini biasanya ditentukan dari jumlah tepuk tangan penonton, sehingga para pemain berusaha memberikan pantun yang cerdas dan menghibur.
Tingkilan Sebagai Media Dakwah dan Warisan Budaya
Pada masa lalu, tingkilan tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga berfungsi sebagai media dakwah. Seni musik ini digunakan oleh para ulama untuk mengenalkan ajaran Nabi Muhammad dan nilai-nilai Islam. Dengan mendengarkan tingkilan, masyarakat diajak memahami ajaran Islam dalam nuansa yang santai dan menyenangkan.
Masuknya budaya Arab ke Kutai Timur turut membawa alat musik gambus sebagai sarana penyebaran ajaran Islam. Lantunan gambus yang harmonis dan menenangkan diterima dengan baik oleh masyarakat setempat, bahkan diadaptasi menjadi bagian dari budaya lokal Kutai. Kesenian ini lantas berkembang hingga menjadi ikon seni Melayu-Islam yang dikenal hingga kini.
Upaya Pengenalan Tingkilan kepada Generasi Muda
Saat ini, ada upaya untuk mengenalkan kembali tingkilan kepada generasi muda agar tradisi ini tidak punah. Beberapa anak muda di Kutai Timur mulai mencoba memodifikasi tingkilan dengan mengombinasikan alat musik gambus dengan instrumen modern seperti ukulele. Upaya ini diharapkan dapat menarik minat anak-anak muda untuk belajar dan melestarikan seni tingkilan.
Para pemuda juga mengadaptasi tema pantun yang lebih relevan dengan kehidupan sehari-hari, terutama isu-isu yang dekat dengan generasi mereka. Dengan tema yang lebih segar dan variasi instrumen yang menarik, tingkilan mulai dikenal kembali di kalangan anak muda Kutai Timur.
“Di samping menjaga tingkilan tradisionalnya, kami juga mengajak anak-anak muda agar mau mengenal dan mencintai kesenian ini. Kami percaya bahwa tradisi ini bisa tetap hidup dengan sentuhan kreatif dari generasi muda,” ujar Fadliansyah.
Pentingnya Dukungan Pemerintah dalam Pelestarian Tingkilan
Pemerintah daerah dapat memberikan perhatian dan dukungan yang lebih besar terhadap pelestarian tingkilan. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, komunitas seni, dan masyarakat luas sangat penting untuk menjaga kelangsungan seni tingkilan di Kutai Timur.
Selain memberikan pelatihan kepada generasi muda, Fadliansyah mengusulkan adanya pementasan rutin atau festival tingkilan yang dapat memperkenalkan kesenian ini kepada masyarakat luas dan wisatawan. Dengan demikian, tingkilan tidak hanya menjadi warisan yang lestari tetapi juga aset budaya yang bisa menjadi daya tarik pariwisata daerah.
“Semoga kita bisa melestarikan tingkilan ini dengan baik. Kesenian ini adalah identitas budaya kita yang patut dijaga dan diperkenalkan kepada dunia,” tutup Fadliansyah.
Harapan untuk Masa Depan Kesenian Tingkilan
Di tengah perkembangan zaman, tingkilan sebagai seni tradisional di Kutai Timur menghadapi tantangan besar untuk terus hidup dan diminati. Namun, dengan upaya pelestarian dan pengenalan yang tepat kepada generasi muda, tingkilan diyakini akan tetap eksis dan bahkan berkembang sebagai ikon budaya Kutai Timur.
Sebagai bagian dari warisan budaya, tingkilan bukan hanya seni berbalas pantun atau memainkan gambus, tetapi juga media yang mempererat hubungan masyarakat, menyampaikan pesan-pesan moral, dan merawat nilai-nilai Islam yang telah lama menjadi bagian dari sejarah Kutai Timur.
