Mojokerto – Dari hamparan tanah seluas 3,5 hektare, bulir-bulir jagung tumbuh bak harapan yang dipanen bersama, menjadi simbol bahwa ketahanan pangan bukan sekadar wacana, melainkan kerja nyata lintas lembaga.
Panen raya jagung digelar oleh Pondok Pesantren Segoro Agung bersama Kejaksaan Negeri Kabupaten Mojokerto pada Senin (20/4/2026) di area belakang Rumah Sakit Adhyaksa Jawa Timur, Desa Sumengko, Kecamatan Jatirejo. Kegiatan ini merupakan bagian dari program kolaboratif untuk mendukung ketahanan pangan nasional melalui pemanfaatan lahan produktif yang dikelola secara bersama. Dari total lahan 3,5 hektare, panen kali ini menghasilkan sekitar 18 hingga 20 ton jagung, angka yang dinilai menunjukkan produktivitas optimal.
“Hari ini kita melaksanakan panen raya jagung dalam rangka mendukung program pemerintah dalam ketahanan pangan. Dalam hal ini kita bersama-sama dengan Pondok Pesantren Segoro Agung. Terima kasih Pak Yai, kita sudah diundang di sini dalam rangka panen raya jagung dalam rangka mendukung ketahanan pangan nasional terima kasih dari Pak Yai,” ujar Kepala Kejaksaan Negeri Kabupaten Mojokerto, Fauzi, S.H., M.H.
Kehadiran Fauzi bersama Kepala Seksi Intelijen Denata Suryaningrat, S.H., M.H., dalam kegiatan tersebut menjadi penegasan dukungan institusi kejaksaan terhadap pemberdayaan masyarakat berbasis pertanian. Program ini tidak hanya berfokus pada hasil produksi, tetapi juga pada proses pembelajaran yang melibatkan para santri secara langsung.
Para santri Pondok Pesantren Segoro Agung turut ambil bagian dalam seluruh tahapan budidaya, mulai dari pengolahan lahan, penanaman, perawatan, hingga panen. Keterlibatan ini memberikan pengalaman praktis sekaligus menanamkan nilai kemandirian ekonomi berbasis pertanian.
“Kami Ponpes Segoro Agung mendukung program pemerintah untuk ketahanan pangan. Kami sampaikan terimakasih kepada kejari dan kejaksaan Kabupaten Mojokerto yang sudah mempercayakan lahannya untuk kami kelola,” ungkap Pengasuh Pondok Pesantren Segoro Agung, KH. Bimo Agus Sunarno.
“Alhamdulillah panen hari ini sukses insyaallah menghasilkan 18-20 TON Jagung,” tambahnya.
Keberhasilan panen ini menjadi indikator bahwa sinergi antara lembaga pendidikan keagamaan dan aparat penegak hukum mampu memberikan dampak konkret bagi masyarakat. Selain meningkatkan produksi pangan, program ini juga berpotensi menggerakkan roda ekonomi lokal, terutama di sektor pertanian.
Lebih jauh, capaian ini diharapkan menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk mengoptimalkan potensi lahan serta sumber daya manusia melalui kolaborasi lintas sektor. Ketahanan pangan, dalam konteks ini, tidak lagi hanya menjadi tanggung jawab pemerintah pusat, melainkan gerakan kolektif yang dimulai dari tingkat lokal.
Panen jagung di Mojokerto ini pun menjadi bukti bahwa kerja sama yang solid dapat menghasilkan lebih dari sekadar angka produksi, tetapi juga membangun optimisme menuju kemandirian pangan di masa depan.
