Sangatta – Sebuah pencapaian membanggakan kembali ditorehkan Kutai Timur dalam transformasi pendidikan digital. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim mengumumkan bahwa daerah ini telah memiliki 54 fasilitator Google Workspace for Education resmi, jumlah yang diklaim sebagai yang terbanyak tidak hanya di Indonesia, bahkan mungkin di kawasan Asia Pasifik.
“Alhamdulillah, kita sudah memiliki fasilitator yang sudah lulus asesmen, 54 orang. Itu terbanyak di Indonesia, bahkan mungkin se-Asia Pasifik,” ungkap Sekretaris Disdikbud Kutim, Irma Yuwinda, saat ditemui di Kantor Bupati pada Jumat (14/11/2025) kemaren.
Para fasilitator ini berperan penting dalam mempercepat penyebaran literasi digital di kalangan guru. Mereka menjadi pelatih internal yang siap melatih rekan-rekan sejawat di sekolah-sekolah tanpa harus terus mengandalkan pelatihan dari pihak eksternal.
“Setelah level 2, baru mereka bisa mengambil tes self-assessment untuk menjadi fasilitator atau semacam training of trainer-nya Google Workspace for Education,” tambah Irma.
Dengan adanya 54 fasilitator, Kutim tidak hanya memperkuat ekosistem pembelajaran digital, tetapi juga membangun sistem pelatihan berkelanjutan melalui pendekatan training of trainers (ToT). Pola ini memungkinkan terjadinya replikasi keahlian secara sistematis dan masif.
Fasilitator-fasilitator ini telah melalui serangkaian pelatihan dan asesmen resmi dari Google, yang mencakup kemampuan teknis dalam penggunaan Google Workspace, strategi pengajaran digital, serta pendampingan implementasi teknologi di kelas. Mereka kini menjadi ujung tombak dalam memastikan proses digitalisasi di sekolah berjalan sesuai standar global.
Langkah ini memperkuat posisi Kutai Timur sebagai daerah yang progresif dalam adopsi teknologi pendidikan. Tidak hanya mengejar status Google Reference School, tetapi juga menciptakan model pelatihan guru yang mandiri dan terstruktur.
Dengan fondasi kuat ini, Disdikbud Kutim optimistis mampu melahirkan lebih banyak fasilitator baru seiring guru-guru menyelesaikan pelatihan Level 1 dan 2. Ke depan, sistem ini diharapkan menjadi contoh nasional dalam membangun kompetensi digital tenaga pendidik secara berkelanjutan. (ADV/AN/Diskominfo).
