Samarinda – Nilai tukar rupiah yang terus tertekan ibarat riak kecil yang perlahan menjalar menjadi gelombang besar di sektor ekonomi. Pelemahan mata uang nasional terhadap dolar Amerika Serikat mulai menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas harga kebutuhan pokok di Kota Samarinda, terutama akibat meningkatnya biaya distribusi barang dari luar daerah.
Kondisi tersebut menjadi perhatian setelah kurs dolar AS pada Selasa (09/6/2026) sempat menyentuh level Rp18.160 per dolar. Anggota Komisi II DPRD Kota Samarinda, Joha Fajal, menilai dampak dari pelemahan rupiah tidak terjadi secara langsung terhadap harga pangan, tetapi berawal dari meningkatnya biaya energi yang menjadi penunjang utama sektor transportasi dan logistik. Sebagian besar pasokan bahan pokok di Samarinda masih berasal dari luar Kalimantan sehingga biaya pengiriman menjadi faktor penting dalam pembentukan harga.
“Kalau dilihat secara logika, dampaknya memang ke BBM. Karena minyak dibeli menggunakan dolar,” kata Joha saat ditemui di DPRD Samarinda, Kamis (9/6/2026).
Menurutnya, ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak mentah menyebabkan fluktuasi nilai tukar memiliki pengaruh terhadap biaya pengadaan energi. Meskipun transaksi di dalam negeri menggunakan rupiah, pembelian komoditas energi dari luar negeri tetap mengacu pada dolar Amerika Serikat.
“Kalau rupiah melemah, otomatis biaya yang berkaitan dengan energi ikut naik,” ujarnya.
Joha menjelaskan, kenaikan biaya energi tersebut pada akhirnya akan berimbas pada sektor logistik, baik pengiriman antarpulau menggunakan kapal laut maupun distribusi melalui jalur darat dengan kendaraan angkutan. Situasi itu dinilai menjadi salah satu faktor yang membuat harga bahan pokok di Kota Tepian relatif rentan mengalami kenaikan.
“Barang yang masuk ke Samarinda rata-rata melalui perjalanan panjang dan semuanya bergantung pada transportasi berbahan bakar,” katanya.
Politikus Partai NasDem tersebut menilai ketahanan pangan daerah perlu diperkuat melalui peningkatan produksi lokal. Menurutnya, ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah membuat harga kebutuhan pokok lebih mudah terpengaruh oleh biaya distribusi dan gejolak ekonomi global.
Ia menambahkan, apabila sebagian besar kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi dari hasil produksi lokal, maka biaya transportasi dapat ditekan sehingga harga barang di tingkat konsumen akan lebih stabil.
“Kalau bahan pokok tidak perlu melalui proses transportasi yang panjang, kemungkinan harganya tidak akan naik terlalu tinggi,” demikian Joha.
Selain mendorong penguatan produksi daerah, Joha meminta pemerintah daerah untuk memberikan perhatian lebih terhadap kelancaran jalur distribusi pangan. Langkah tersebut dianggap penting untuk mengurangi tekanan biaya logistik yang pada akhirnya dapat memengaruhi daya beli masyarakat.
Di tengah dinamika ekonomi global, upaya menjaga kestabilan distribusi dan memperkuat ketersediaan pangan lokal dinilai menjadi salah satu strategi penting agar gejolak nilai tukar tidak semakin membebani kebutuhan masyarakat sehari-hari. (ADV).
