Samarinda – Permainan domino yang selama ini kerap dipandang sebelah mata perlahan mulai mengubah wajahnya. Ibarat “kartu yang dibalik”, olahraga tradisional tersebut kini hadir dengan arah baru sebagai cabang olahraga rekreasi yang memiliki pembinaan dan kompetisi resmi hingga tingkat internasional.
Perkumpulan Olahraga Domino Indonesia (PORDI) Kota Samarinda terus mengintensifkan sosialisasi kepada masyarakat agar stigma negatif yang selama ini melekat terhadap permainan domino dapat ditinggalkan. Anggota DPRD Samarinda sekaligus Ketua Pengurus Kecamatan (Pengcam) PORDI Samarinda Utara, Maswedi, mengatakan domino saat ini telah berada di bawah naungan Komite Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia (KORMI) dengan sistem pembinaan yang semakin tertata.
“Domino sudah punya jalur pembinaan dan kompetisi. Ini bukan lagi sekadar permainan santai, tapi olahraga rekreasi yang bisa dibina,” ujar Maswedi beberapa waktu lalu.
Menurutnya, beberapa pekan lalu dirinya resmi dilantik sebagai Ketua Pengcam PORDI Samarinda Utara. Ia mengaku bersedia mengemban amanah tersebut karena melihat besarnya minat masyarakat terhadap permainan domino yang kini berkembang ke arah yang lebih positif.
Maswedi menjelaskan, keberadaan kepengurusan di tingkat kecamatan bertujuan untuk mengakomodasi para penghobi domino serta memfasilitasi berbagai kegiatan dan sarana yang dibutuhkan. Dengan demikian, semakin banyak turnamen yang dapat digelar dan melahirkan atlet-atlet berkualitas yang mampu membawa nama Samarinda dan Kalimantan Timur di tingkat nasional maupun internasional.
“Animo peserta terus meningkat. Ini menunjukkan bahwa domino mulai diterima sebagai olahraga strategi,” kata dia.
Ia menerangkan bahwa pembinaan dilakukan berdasarkan kategori usia. Untuk kelompok usia, peserta berumur 15 hingga 18 tahun, sedangkan kategori umum diperuntukkan bagi pemain berusia 15 tahun ke atas. Bahkan, olahraga domino saat ini telah dipertandingkan hingga level mancanegara.
“Di Jakarta kemarin juga sudah ada kejuaraan. Alhamdulillah juaranya dari Makassar. Kami berharap ke depan atlet-atlet dari Samarinda juga mampu mewakili Indonesia di ajang internasional,” ujarnya.
Maswedi menilai paradigma masyarakat terhadap domino perlu terus diubah. Menurutnya, permainan tersebut tidak lagi identik dengan aktivitas di pos ronda semata, melainkan telah berkembang menjadi olahraga yang mengedepankan strategi dan kemampuan berpikir.
“Domino sekarang bukan lagi permainan di pos kamling, tetapi sudah menjadi olahraga yang level pertandingannya mencapai tingkat nasional,” katanya.
Selain aspek prestasi, ia menyebut domino memiliki fungsi sosial yang kuat. Berbagai kegiatan yang digelar PORDI tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga mempererat hubungan antarwarga serta memperkuat kebersamaan di tengah masyarakat yang majemuk.
“Di setiap kegiatan, yang muncul bukan hanya kompetisi, tapi juga interaksi sosial yang memperkuat silaturahmi,” tuturnya.
Maswedi juga mengungkapkan bahwa turnamen domino memberikan dampak ekonomi tidak langsung bagi masyarakat. Kehadiran peserta dan penonton saat pelaksanaan event turut menggerakkan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar lokasi kegiatan.
“UMKM biasanya ikut bergerak saat event berlangsung. Jadi ada efek ekonomi yang ikut tumbuh,” katanya.
Terkait pandangan keagamaan, ia menegaskan bahwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menyatakan permainan domino diperbolehkan selama tidak disertai unsur perjudian dan tidak membuat pemain melalaikan kewajiban beribadah.
“Domino itu halal dan tidak masalah selama tidak berjudi dan tidak melupakan waktu ibadah. Sama seperti olahraga lainnya, semuanya tergantung bagaimana orang menjalaninya,” jelas Maswedi.
Ia berharap kehadiran PORDI di Samarinda Utara dapat menjadi sarana rekreasi, pembinaan prestasi, sekaligus pelestarian olahraga tradisional yang semakin diterima masyarakat luas.
“Kami ingin stigma lama hilang. Domino harus dilihat sebagai olahraga rekreasi,” pungkasnya. (ADV).
