SAMARINDA – Penurunan kontribusi sektor perhotelan terhadap pendapatan daerah menjadi perhatian DPRD Kota Samarinda.
Hingga September 2024, sektor tersebut baru menyumbang sekitar Rp160 miliar, lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya yang berada di angka sekitar Rp200 miliar.
Ketua DPRD Kota Samarinda, Helmi Abdullah, mengatakan salah satu faktor yang memengaruhi kondisi tersebut adalah berkurangnya kegiatan pemerintah akibat penerapan efisiensi anggaran.
Sejumlah kegiatan yang sebelumnya menjadi bagian dari agenda pemerintah, termasuk acara seremonial dan pertemuan, kini dikurangi. Dampaknya turut dirasakan oleh pelaku usaha perhotelan karena kegiatan pemerintah selama ini menjadi salah satu sumber aktivitas bisnis.
“Kalau kita hitung dengan tahun kemarin, memang ada penurunan. Penurunan itu sebenarnya karena ada efisiensi dari pemerintah sendiri,” ungkap Helmi, Rabu (7/10/2026).
Ia berharap kebijakan pemerintah pusat terkait transfer ke daerah dapat memberikan dukungan terhadap pemulihan aktivitas pemerintahan di daerah. Jika berbagai program kembali berjalan, hotel berpotensi kembali menjadi salah satu tempat penyelenggaraan kegiatan.
“Kalau kegiatan-kegiatan pemerintah kembali berjalan, pastilah akan banyak melibatkan hotel-hotel yang ada di Kota Samarinda,” katanya.
Namun, Helmi menekankan pentingnya strategi lain untuk menjaga keberlangsungan bisnis perhotelan. Salah satunya dengan meningkatkan promosi Samarinda sebagai daerah tujuan kunjungan.
Menurutnya, pelaku usaha hotel perlu bekerja sama dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) untuk menarik wisatawan maupun tamu dari luar daerah. Semakin banyak orang yang datang dan bermalam di Samarinda, semakin besar pula peluang peningkatan okupansi hotel.
Peningkatan aktivitas sektor perhotelan, lanjut Helmi, tidak hanya berpotensi meningkatkan pendapatan daerah. Industri tersebut juga memberikan kontribusi terhadap penciptaan lapangan kerja.
Ia menyebut keberadaan hotel baru dapat menyerap tenaga kerja lokal. Dengan asumsi satu hotel mempekerjakan sekitar 10 sampai 20 orang, bertambahnya investasi hotel akan membuka peluang pekerjaan baru.
Karena itu, Helmi meminta investor dan pengelola hotel untuk memberikan kesempatan lebih besar kepada masyarakat lokal. Di saat yang sama, ia mengingatkan para pencari kerja agar meningkatkan kemampuan dan keterampilan.
Menurutnya, tenaga kerja Samarinda harus dipersiapkan agar mampu mengisi bukan hanya posisi staf, tetapi juga jabatan manajerial dan strategis di industri perhotelan.
“Harapan kita dengan adanya hotel-hotel baru itu tetap memprioritaskan anak-anak muda atau warga Samarinda untuk bekerja,” pungkasnya. (ADV/DPRD/Samarinda)
