Sangatta – Demi melestarikan kekayaan budaya Nusantara, Pemerintah Kabupaten Kutai Timur menggelar Festival Adat dan Kuliner Nusantara, yang dibuka secara resmi oleh Asisten Pemerintahan Umum dan Kesejahteraan Rakyat, Poniso Suryo Renggono. Festival ini, diselenggarakan atas kerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, menjadi wadah bagi berbagai paguyuban adat di Kutai Timur untuk memperkenalkan budaya daerah asal mereka kepada masyarakat lokal.
Tidak hanya menjadi ajang perayaan budaya, festival ini juga merupakan langkah nyata pemerintah dalam mengimplementasikan Undang-Undang No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Berdasarkan Pasal 7 dari undang-undang tersebut, pemerintah pusat dan daerah diwajibkan untuk mengarusutamakan kebudayaan melalui pendidikan demi mencapai tujuan pemajuan kebudayaan. Poniso menegaskan bahwa penyelenggaraan festival ini adalah bentuk nyata dari komitmen Kutai Timur dalam merawat kebhinekaan dan menumbuhkan kesadaran budaya di kalangan masyarakat.
Dalam sambutannya, Poniso mengungkapkan rasa bangganya atas upaya masyarakat Kutai Timur merawat kebhinekaan. Kutai Timur, yang dijuluki “Magic Land,” tidak hanya kaya akan sumber daya alam, tetapi juga memiliki keberagaman etnis yang mampu hidup berdampingan. “Festival ini adalah bukti nyata kebersamaan kita dalam merawat nilai-nilai kebudayaan serta menciptakan kerukunan di tengah keberagaman yang ada,” ujarnya usai membuka festival adat Nusantara di Polder Sangatta Utara, Sabtu (2/11/2024).
Kutai Timur sendiri dihuni oleh dua suku besar, yaitu Suku Kutai dan Suku Dayak, namun terbuka bagi suku-suku pendatang lainnya.
Merawat Tradisi di Tengah Gempuran Modernisasi
Di tengah arus globalisasi yang kian deras, Festival Adat dan Kuliner Nusantara ini diharapkan mampu menjadi sarana dalam mempertahankan adat istiadat dan tradisi lokal. “Adat dan budaya leluhur kita adalah kekuatan bangsa. Di tengah ancaman modernisasi yang dapat mengikis identitas budaya kita, sangat penting untuk merawat dan menjaga tradisi agar tetap hidup di tengah masyarakat,” lanjut Poniso. Ia menekankan bahwa festival ini adalah sarana untuk mempertahankan nilai-nilai tradisi di Kutai Timur, yang mencerminkan keberagaman Nusantara.
Dengan menghadirkan paguyuban adat dari berbagai daerah, masyarakat dapat mengenal dan menghargai keunikan budaya dari setiap suku yang ada. Festival ini juga menjadi ajang hiburan sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat, yang diharapkan dapat mempererat hubungan antar suku di Kutai Timur. Selain itu, festival ini juga merupakan momentum bagi generasi muda untuk lebih memahami dan mencintai kebudayaan leluhur.
Menumbuhkan Perekonomian Lokal Melalui Festival Budaya
Festival ini tidak hanya bertujuan untuk melestarikan budaya, tetapi juga diharapkan memberikan dampak positif bagi sektor ekonomi mikro kecil dan menengah (UMKM) di Kutai Timur. Dengan berkumpulnya masyarakat dari berbagai kalangan, transaksi ekonomi selama festival dapat memberikan peluang bagi UMKM untuk meningkatkan pendapatan mereka. Hal ini sejalan dengan visi pemerintah daerah untuk mengintegrasikan budaya dan ekonomi kreatif sebagai upaya mendorong perekonomian berbasis budaya lokal.
Festival Adat dan Kuliner Nusantara ini mengusung tiga pilar utama, yakni kekayaan budaya, penguatan identitas budaya, dan pengembangan ekonomi kreatif. Ketiga unsur tersebut dirancang agar budaya Nusantara di Kutai Timur tetap terawat, dikenal, dan diwariskan kepada generasi penerus. “Budaya adalah jati diri bangsa. Melestarikan budaya sama dengan menjaga identitas kita sebagai bangsa yang kaya akan keanekaragaman budaya,” tambah Poniso.
Tiga Tujuan Utama Festival Adat dan Kuliner Nusantara
Festival ini memiliki tiga tujuan utama sebagai sasaran yang ingin dicapai oleh pemerintah Kutai Timur, yakni:
- Memperkenalkan Adat Istiadat Nusantara yang Ada di Kutai Timur
Dengan menghadirkan berbagai paguyuban adat dari seluruh Nusantara, festival ini bertujuan agar masyarakat Kutai Timur dapat mengenal dan menyadari kekayaan budaya Nusantara yang ada di sekitar mereka. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat identitas budaya Nusantara sebagai bagian penting dari kehidupan masyarakat Kutai Timur yang majemuk. - Melestarikan Warisan Leluhur di Tengah Gempuran Modernisasi
Di era globalisasi yang membawa pengaruh budaya asing, keberadaan festival ini menjadi penting agar adat istiadat Nusantara tetap dirawat dan dilestarikan oleh masyarakat sebagai warisan leluhur yang berharga. Upaya ini diharapkan dapat menjaga budaya lokal agar tidak terkikis oleh pengaruh modernisasi yang begitu kuat. “Mempertahankan adat leluhur bukan hanya soal nostalgia, tetapi juga melestarikan nilai-nilai luhur yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia,” jelas Poniso. - Mengajak Masyarakat untuk Aktif Menjadi Pelaku Tradisi Nusantara
Selain memperkenalkan dan melestarikan, pemerintah juga berharap festival ini mampu mendorong masyarakat untuk turut menjadi pelaku aktif dalam tradisi adat dan istiadat Nusantara. Partisipasi aktif ini penting untuk menjadikan kebudayaan yang majemuk di Kutai Timur sebagai daya tarik sekaligus kebanggaan bagi daerah tersebut. Dengan demikian, kebudayaan Nusantara di Kutai Timur dapat menjadi nilai tambah bagi daerah dan mendukung promosi wisata budaya lokal.
Festival Adat dan Kuliner Nusantara ini diharapkan mampu menjadi acara tahunan yang tidak hanya menarik perhatian masyarakat Kutai Timur, tetapi juga dari luar daerah. Selain sebagai ajang edukasi dan hiburan, festival ini menjadi ruang bertemunya berbagai kelompok budaya untuk saling mengenal dan menghargai perbedaan yang ada.
Dengan adanya festival ini, Kabupaten Kutai Timur terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga keharmonisan dan kerukunan di tengah masyarakat multikultural. Diharapkan, festival ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi serta memperkuat karakter bangsa melalui pelestarian budaya. Festival ini juga menjadi bukti bahwa keberagaman budaya bukanlah penghalang, melainkan kekuatan yang harus dirawat dan dijaga demi masa depan yang harmonis dan berbudaya
