Samarinda – Bangunan megah tak selalu menjamin denyut ekonomi berdetak kencang. Ibarat rumah besar yang belum terisi penghuni, Pasar Pagi Samarinda yang telah kembali beroperasi justru masih menghadapi persoalan minimnya aktivitas perdagangan di dalam area pasar.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Ketua Komisi II DPRD Kota Samarinda, Iswandi. Ia mengungkapkan pihaknya akan segera memanggil Dinas Perdagangan untuk meminta penjelasan terkait sepinya aktivitas jual beli di pasar yang dibangun dengan anggaran mencapai Rp468 miliar itu. Pemanggilan dijadwalkan berlangsung pada Selasa atau Rabu setelah DPRD menerima berbagai laporan dari para pedagang.
“Kita akan panggil hari Selasa atau Rabu, saya juga monitor laporan dari para pedagang. Pasar yang dibangun dengan biaya Rp468 miliar, hasilnya bagus tapi malah sepi pedagang. Ekonomi enggak bergerak. Mau buat apa itu, itu yang saya khawatirkan dari dulu,” kata Iswandi saat diwawancarai pada Senin (22/6/2026).
Menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari tampilan fisik yang menarik, tetapi juga dari manfaat ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat. Ia menilai keberadaan fasilitas yang megah akan kehilangan makna apabila tidak mampu menjadi pusat perputaran ekonomi bagi para pedagang maupun konsumen.
“Pembangunan infrastruktur secara estetik bagus, tapi secara manfaat tidak ada nanti. Bahaya itu,” ujarnya.
Sejumlah pedagang sebelumnya mengaku kesulitan mendapatkan pembeli di dalam area kios. Kondisi itu membuat sebagian dari mereka memilih berjualan di luar bangunan pasar agar lebih mudah menjangkau pengunjung. Situasi tersebut menyebabkan banyak ruang usaha di dalam pasar terlihat kosong dan aktivitas perdagangan tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan.
Iswandi menegaskan, besarnya anggaran yang telah dikeluarkan pemerintah seharusnya mampu memberikan dampak nyata bagi peningkatan ekonomi masyarakat. Karena itu, ia meminta Dinas Perdagangan Kota Samarinda segera menyusun langkah konkret untuk menarik kembali pedagang dan pembeli agar aktivitas pasar kembali hidup.
“Lebih baik 400 miliar itu digunakan untuk yang langsung berdampak. Kita minta dinas bagaimana caranya meramaikan lagi pasar itu. Jangan cuma bisa bangun tapi tidak bisa meramaikan,” tegasnya.
Selain itu, ia juga menyoroti masih banyaknya kios yang belum terisi. Menurutnya, pasar tradisional pada umumnya identik dengan keramaian dan kepadatan aktivitas perdagangan. Sebaliknya, kondisi yang terjadi di Pasar Pagi saat ini justru memperlihatkan banyak ruang kosong sehingga suasananya belum mencerminkan pusat perdagangan yang ramai.
“Penataan-penataan itu saya lihat banyak space kosong. Kalau pasar itu biasanya penuh orang jualan. Ini seperti lorong, bukan tempat wisata,” demikian Iswandi.
Persoalan tersebut dinilai perlu segera mendapatkan solusi agar investasi besar yang telah digelontorkan pemerintah tidak menjadi sia-sia. DPRD berharap keberadaan Pasar Pagi Samarinda benar-benar mampu menjadi motor penggerak ekonomi rakyat serta memberikan manfaat langsung bagi para pedagang dan masyarakat luas. (ADV).
