Close Menu
Etara.idEtara.id
  • Beranda
  • Politik
  • Ekonomi
  • Lifestyle
  • Artikel
What's Hot

DPPKB Kutim Perkuat Penanganan 109 Keluarga Risiko Stunting di Long Masangat

8 Sep 2026

Fraksi PKS Kaltim Soroti Infrastruktur Pusat, Pertanyakan Keadilan Fiskal Pusat-Daerah

7 Sep 2026

Hasil Reses DPRD Kutim, Warga Banyak Usulkan Infrastruktur dan Dukungan Ekonomi Masyarakat

7 Sep 2026
1 2 3 … 974 Next
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
Etara.idEtara.id
Subscribe
  • Beranda
  • Politik

    Fraksi PKS Kaltim Tegaskan Dukungan Penuh untuk Hak Angket

    6 Mei 2026

    Ardiansyah Sulaiman: PKS Hadir untuk Melayani Negeri

    6 Apr 2026

    Momentum Idulfitri, Pemkab dan DPRD Pacu Target Pembangunan Kutai Timur

    18 Mar 2026

    Di Bukber Hanura, Wabup Kutim Bicara Tantangan Fiskal

    28 Feb 2026

    Mahyunadi Tekankan Peran Partai dalam Pembangunan Daerah

    27 Jan 2026
  • Ekonomi
  • Lifestyle

    Ikan Bakar Banjar Lezat di Sangatta Utara, Perpaduan Rasa Gurih dan Nikmat

    5 Mei 2026

    Liburan Ala Ubud di Trawas, Asmaraloka Villa & Resto Jadi Destinasi Favorit Baru

    24 Okt 2024

    Berpuasa Ketika Safar

    17 Mar 2024

    Keutamaan dan Hikmah Ibadah Puasa

    15 Mar 2024

    3 Macam Sabar dalam Puasa

    14 Mar 2024
  • Artikel
Etara.idEtara.id

DPPKB Kutim Perkuat Penanganan 109 Keluarga Risiko Stunting di Long Masangat

Kolaborasi lintas sektor di Long Mesangat diperkuat agar keluarga berisiko mendapat pendampingan, edukasi, dan dukungan gizi berkelanjutan.
Pemkab Kutim Ajeng NadyaAjeng Nadya8 Sep 2026
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
kegiatan layanan jemput bola Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutai Timur di Kantor Camat Long Mesangat, Desa Sumber Sari, Selasa (8/9/2026)
kegiatan layanan jemput bola Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutai Timur di Kantor Camat Long Mesangat, Desa Sumber Sari, Selasa (8/9/2026)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

Long Mesangat – Upaya menekan stunting di Kecamatan Long Mesangat tidak cukup hanya mengandalkan satu instansi. Semangat gotong royong itu mengemuka dalam kegiatan layanan jemput bola Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kutai Timur di Kantor Camat Long Mesangat, Desa Sumber Sari, Selasa (8/9/2026). Pertemuan tersebut menjadi ruang bersama untuk memperkuat koordinasi dalam menangani keluarga yang masuk kategori berisiko stunting.

Sekretaris Dinas PPKB Kutim, Jumran, yang hadir mewakili Pelaksana Harian Kepala Dinas, menegaskan bahwa penanganan stunting membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Menurutnya, persoalan tersebut tidak bisa diselesaikan hanya melalui program pemerintah daerah, tetapi juga memerlukan dukungan pemerintah kecamatan, desa, tenaga pendamping, aparat, perusahaan, hingga masyarakat.

“Bukan hanya tugas kami di dinas. Tanpa kolaborasi yang baik, semua tidak akan berjalan dengan baik,” ujarnya di hadapan para peserta.

Berdasarkan data Sistem Informasi Keluarga (SIGA), terdapat 109 kepala keluarga di Kecamatan Long Mesangat yang masuk kategori Keluarga Risiko Stunting atau KRS. Angka tersebut tersebar di sejumlah desa dengan jumlah yang berbeda-beda.

Desa Sumber Agung tercatat memiliki jumlah KRS paling tinggi, yakni 44 kepala keluarga. Selanjutnya Desa Tanah Abang sebanyak 16 KK, Segoy Makmur 12 KK, Sika Makmur 11 KK, Melan 11 KK, Mukti Utama delapan KK, dan Sumber Sari tujuh KK. Data tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk menentukan arah intervensi dan pendampingan secara lebih terukur.

Camat Long Mesangat, Rapichin, mengatakan pemahaman masyarakat mengenai istilah keluarga risiko stunting masih perlu diperkuat. Ia menilai masih ada warga yang menganggap status KRS sama dengan stunting, padahal keduanya memiliki pengertian berbeda.

“Resiko artinya punya potensi berisiko. Kalau tidak ditangani bisa stunting, tapi kalau ditangani bisa tidak stunting. Ini pemahaman yang perlu disosialisasikan,” jelasnya.

Rapichin menambahkan, kesalahpahaman tersebut bahkan berdampak pada sikap sebagian masyarakat. Ada warga yang merasa malu ketika keluarganya masuk dalam daftar KRS, sehingga enggan mengikuti pemeriksaan rutin di posyandu.

“Bahkan ada yang tidak mau datang ke posyandu karena malu. Padahal stunting bukan penyakit menular, justru kalau masih bisa ditangani kita harus rutin memantau,” tambahnya.

Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi perhatian bersama karena pemantauan kesehatan menjadi salah satu bagian penting dalam pencegahan stunting. Semakin dini faktor risiko diketahui, semakin besar peluang dilakukan intervensi sebelum kondisi berkembang menjadi lebih serius.

Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah unsur, antara lain Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan, Babinsa, Bhabinkamtibmas, TP-PKK kecamatan, kepala desa, perwakilan perusahaan di sekitar Long Mesangat, serta penyuluh keluarga berencana. Keterlibatan lintas sektor tersebut diharapkan tidak hanya berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi mampu melahirkan langkah nyata dalam mendampingi keluarga berisiko.

Salah satu bentuk dukungan yang diberikan dalam kegiatan itu adalah penyerahan simbolis Pemberian Makanan Tambahan dari Baznas Kutai Timur kepada 10 keluarga berisiko stunting. Bantuan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pemenuhan kebutuhan gizi bagi keluarga yang membutuhkan.

Selain pemberian bantuan, kegiatan juga diisi dengan edukasi mengenai layanan penanganan KRS. Kepala Bidang Pengendalian Penduduk DPPKB Kutim, Tristiningsih, memberikan penjelasan tentang bentuk layanan dan pendampingan yang dapat diberikan kepada keluarga berisiko.

Sementara itu, Kepala Bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga, Ani Saida, memaparkan perkembangan program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Anak Stunting atau Genting. Program tersebut menjadi salah satu pendekatan yang mendorong keterlibatan lebih luas dari berbagai pihak dalam mendukung pencegahan stunting.

Melalui layanan jemput bola ini, DPPKB Kutim berharap penanganan keluarga berisiko stunting di Long Mesangat dapat dilakukan secara lebih terpadu dan berkelanjutan. Pendataan diharapkan menjadi pintu awal untuk memastikan setiap keluarga memperoleh edukasi, pemantauan, pendampingan dan dukungan yang sesuai dengan kebutuhannya.

Kolaborasi antara pemerintah, aparat, dunia usaha, lembaga sosial dan masyarakat menjadi kunci agar 109 keluarga berisiko stunting di Long Mesangat tidak sekadar tercatat dalam data, tetapi benar-benar mendapat perhatian dan intervensi. Dengan pendampingan yang konsisten, risiko stunting di wilayah tersebut diharapkan dapat ditekan sejak dini.

Silakan Bekomentar
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email

Related Posts

Mahyunadi Ajak Kerukunan Keluarga Kawanua Jaga Kerukunan dan Bangun Kutim

Tak Raih Apresiasi Kemendagri, Kutim Jadikan Evaluasi untuk Terus Berbenah

Kutim Evaluasi Pelaporan Rehab 472 Rumah Warga

Berita Terkini

Fraksi PKS Kaltim Soroti Infrastruktur Pusat, Pertanyakan Keadilan Fiskal Pusat-Daerah

Ajeng NadyaAjeng Nadya7 Sep 2026 DPRD Kaltim

Hasil Reses DPRD Kutim, Warga Banyak Usulkan Infrastruktur dan Dukungan Ekonomi Masyarakat

7 Sep 2026

Mahyunadi Ajak Kerukunan Keluarga Kawanua Jaga Kerukunan dan Bangun Kutim

5 Sep 2026

Tak Raih Apresiasi Kemendagri, Kutim Jadikan Evaluasi untuk Terus Berbenah

4 Sep 2026
Stay In Touch
  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
Artikel Terkini

Kepemimpinan Terkini Dalam Modernisasi Pelayanan Publik

10 Agu 2026

Ikan Bakar Banjar Lezat di Sangatta Utara, Perpaduan Rasa Gurih dan Nikmat

5 Mei 2026

November Penuh Makna, Pahlawan Itu Bernama Ayah

13 Nov 2025

Penjemputan Paksa KPK dan Refleksi Korupsi Izin Tambang

28 Agu 2025

Anak Butuh Perlindungan Nyata

20 Agu 2025

Royalti Lagu Harus Lewat LMK

4 Jul 2025
© 2026 | Etara.id by Dexpert, Inc.
PT. Etara Nusa Warta
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Pedoman
  • Kontak

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.