SAMARINDA – Pemanfaatan air dari kolam bekas tambang atau void menjadi salah satu upaya untuk membantu mengatasi kekeringan yang berdampak pada lahan pertanian di Samarinda. Ketua Komisi III DPRD Samarinda, Deni Hakim Anwar, menyebut pemanfaatan sumber air alternatif tersebut telah membantu sejumlah lahan di kawasan Makroman dan Sambutan.
Deni mengatakan, lahan pertanian yang memperoleh manfaat dari upaya tersebut diperkirakan mencapai sekitar 43 hektare. Namun, angka luasan tersebut masih perlu dipastikan kembali.
“Di tengah kondisi kekeringan yang ada, suka tidak suka kita bisa memanfaatkan void tambang itu untuk kepentingan yang tidak untuk konsumsi air minum. Salah satunya untuk mengatasi kekeringan di lahan pertanian,” ujar Deni di Samarinda, Selasa (13/10/2026).
Ia menjelaskan, upaya tersebut dilakukan di tengah kebutuhan untuk mengantisipasi dampak musim kering terhadap sektor pertanian. Air dari void tambang di wilayah Sambutan dan Lembah Roman menjadi salah satu alternatif yang dipertimbangkan untuk membantu memenuhi kebutuhan pengairan.
Deni menyebut pihaknya telah berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda, termasuk dengan Suwarso, terkait langkah penanganan kekeringan.
Meski berpotensi membantu sektor pertanian, ia mengingatkan pemanfaatan air void tambang tetap harus melalui pengujian kualitas. Deni meminta BPBD bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) melakukan uji kelayakan sebelum air tersebut digunakan untuk kebutuhan lain.
Menurutnya, pemanfaatan air perlu disesuaikan dengan peruntukannya. Air yang digunakan untuk pengairan pertanian maupun kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK) tidak serta-merta dapat digunakan untuk konsumsi air minum.
“Kita tidak ingin nanti ketika air itu digunakan menimbulkan efek yang tidak baik. Makanya, uji kelayakan terhadap kondisi void itu sendiri menjadi hal yang paling utama,” tegasnya.
Deni menilai, pengalaman pemanfaatan sumber air alternatif ini harus menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah dalam menghadapi kekeringan berikutnya. Persiapan perlu dilakukan lebih awal, mulai dari pemetaan sumber air potensial hingga pemeriksaan kelayakan air.
Ia berharap penanganan kekeringan dapat direncanakan secara lebih matang agar kebutuhan air untuk sektor pertanian bisa diantisipasi, tanpa mengabaikan aspek keamanan dan kelestarian lingkungan.(ADV/DPRD/Samarinda).
