Sangatta – Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Kutai Timur menggelar Workshop Life Skill bagi fasilitator kelompok Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) serta Forum Duta Genre pada 10-11 Desember 2024. Bertempat di Aula Teras Belad, Sangatta Utara, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan fasilitator remaja dalam memfasilitasi edukasi dan konseling, terutama terkait life skill dan pencegahan kekerasan seksual.
Workshop ini dihadiri oleh peserta dari empat kecamatan, yakni Sangatta Utara, Bengalon, Teluk Pandan, dan Kaliorang, serta anggota Forum GenRe Kutai Timur dan perwakilan DPPKB, dengan total 50 peserta. Kegiatan berlangsung selama dua hari, melibatkan narasumber dari Perwakilan BKKBN Provinsi Kalimantan Timur dan fasilitator nasional serta provinsi dari GenRe Indonesia.
Menghadapi Tantangan Kehidupan Remaja
Dalam laporan ketua penyelenggara yang disampaikan oleh Ani Saidah, Kepala Bidang Ketahanan dan Kesejahteraan Keluarga DPPKB Kutai Timur, disebutkan bahwa remaja saat ini menghadapi berbagai tantangan seperti penyalahgunaan narkoba, perundungan, kehamilan di usia muda, hingga kekerasan seksual.
“Mereka sering kali berada di persimpangan antara pesan moral dari orang tua dan guru dengan tekanan dari lingkungan atau teman sebaya. Penguasaan life skill menjadi kunci untuk menghadapi tantangan ini secara positif,” ujarnya.
Menurut Ani, life skill yang diperkenalkan dalam kegiatan ini mengacu pada 10 kemampuan dasar menurut WHO, UNICEF, dan UNESCO, termasuk pengelolaan emosi, berpikir kritis, komunikasi efektif, dan pengambilan keputusan. Semua ini bertujuan agar remaja dapat melindungi diri sekaligus membangun hubungan sosial yang sehat.
Fokus pada Substansi Baru: Life Skill dan Kekerasan Seksual
Program ini juga memperkenalkan upgrade modul “Tentang Kita,” yang sebelumnya berisi edukasi tentang kesehatan reproduksi, gizi, dan perencanaan masa depan. Substansi baru tentang life skill dan kekerasan seksual ditambahkan untuk merespons meningkatnya kasus kekerasan seksual yang melibatkan remaja, baik sebagai korban maupun pelaku.
Berdasarkan data Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2021, sekitar 8 dari 100 remaja perempuan dan 4 dari 100 remaja laki-laki di Indonesia usia 13-17 tahun mengalami kekerasan seksual. Pelakunya bisa berasal dari lingkungan terdekat, seperti teman sebaya, pasangan, bahkan keluarga.
“Pendekatan peer to peer menjadi strategi utama kami karena teman sebaya adalah pengaruh terbesar bagi remaja. Dengan memberdayakan fasilitator sebaya, kami berharap mereka dapat menjadi agen perubahan yang positif bagi remaja lainnya,” tambah Ani.
Arahan dari Kepala Dinas DPPKB Kutai Timur
Kepala Dinas DPPKB Kutai Timur, Achmad Junaidi B., menegaskan pentingnya edukasi tentang life skill untuk membentuk karakter remaja yang tangguh.
“Remaja adalah masa yang penuh tantangan. Mereka menghadapi tuntutan yang kompleks, mulai dari tekanan sosial hingga perundungan. Dengan penguasaan life skill, mereka diharapkan mampu merespons setiap tantangan dengan bijaksana dan menghindari perilaku negatif seperti pernikahan dini, penyalahgunaan narkoba, atau hubungan seksual sebelum menikah,” jelasnya.
Junaidi juga menyoroti pentingnya implementasi program Duta Genre Desa/Kelurahan di seluruh wilayah Kutai Timur. Ia meminta pengelola program di tingkat kecamatan untuk melaporkan perkembangan serta kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan ini.
Metode Interaktif dan Praktis
Workshop ini mengusung metode yang interaktif, seperti diskusi tanya-jawab, permainan, hingga praktik penggunaan modul. Peserta juga dibekali rencana tindak lanjut yang harus diterapkan di wilayah masing-masing.
Dengan format tersebut, peserta diharapkan tidak hanya memahami materi secara teoritis, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari maupun saat mendampingi remaja lainnya.
Harapan untuk Masa Depan Remaja di Kutai Timur
Melalui workshop ini, diharapkan para fasilitator mampu menjadi pelopor edukasi di komunitas remaja masing-masing. Mereka diamanahkan untuk meneruskan materi yang diperoleh kepada kelompok PIK-R dan masyarakat luas, khususnya dalam mengedukasi remaja tentang pentingnya life skill.
“Kami berharap fasilitator yang dilatih dalam kegiatan ini dapat membantu remaja di Kutai Timur melewati lima transisi kehidupan dengan baik, yaitu menyelesaikan pendidikan, memulai pekerjaan, membangun keluarga, berpartisipasi dalam masyarakat, dan menjalani kehidupan yang sehat,” ujar Junaidi.
