Kutim – Wacana pemangkasan cabang olahraga pada Pekan Olahraga Provinsi menjadi “ujian sebelum bertanding” bagi atlet Kutai Timur. Di tengah belum jelasnya keputusan mengenai jumlah cabang dan nomor pertandingan, Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI) Kutai Timur tetap menyiapkan 18 karateka lokal untuk berlaga pada 12 nomor dengan target menambah perolehan medali emas.
Ketua FORKI Kutai Timur, Sayid Anjas, mengatakan seluruh atlet tetap mengikuti latihan terpusat atau training center setiap pekan. Para karateka yang dipersiapkan berusia sekitar 17 hingga 20 tahun dan berasal dari kalangan pelajar sekolah menengah atas hingga mahasiswa. Mereka merupakan hasil pembinaan daerah yang diseleksi melalui sejumlah pertandingan di dalam maupun luar daerah.
FORKI Kutim sebelumnya memperoleh dua medali emas dan dua medali perunggu dalam kejuaraan di Berau. Hasil tersebut menjadi pijakan untuk memasang target lebih tinggi pada Porprov, meskipun kekuatan tim kali ini sepenuhnya bertumpu pada atlet lokal tanpa mengambil karateka dari luar daerah.
“Targetnya naik lebih daripada dua. Cuma problemnya, tahun ini kami tidak lagi mengambil atlet dari luar. Kalau dulu kami berkolaborasi, sekarang kami murni menggunakan anak-anak hasil pembinaan,” kata Sayid Anjas.
Menurut Sayid, kebijakan menggunakan atlet binaan sendiri merupakan bagian dari upaya membangun fondasi karate Kutai Timur secara berkelanjutan. Namun, jumlah atlet aktif yang terbatas membuat FORKI Kutim tidak mempunyai banyak pilihan cadangan pada sejumlah nomor pertandingan.
Pada beberapa kelas, FORKI Kutim hanya memiliki satu atau dua karateka yang dianggap siap. Kondisi itu menjadi tantangan apabila terdapat atlet yang mengalami gangguan kesehatan, cedera, atau berhalangan tampil menjelang pertandingan.
“Tapi tidak apa-apa. Itu tidak mengurangi semangat kami untuk bertemu dan bertanding. Kami setiap minggu sudah melaksanakan latihan TC,” ujarnya.
Penjaringan atlet dilakukan dengan memantau performa karateka selama mengikuti berbagai kejuaraan. Tim pelatih tidak hanya menilai kemampuan teknis, tetapi juga memperhatikan kedisiplinan, konsistensi, semangat berlatih, dan kemauan setiap atlet untuk berkembang.
“Kami mengikuti pertandingan di daerah dan luar daerah sehingga bisa menyeleksi anak-anak yang mulai berpotensi. Kami melihat siapa yang mempunyai semangat dan niat. Itu yang menjadi rekomendasi kami sebagai atlet yang berpotensi maju ke Porprov,” jelasnya.
Persiapan FORKI Kutim mendapat dukungan dana pemusatan latihan dari Komite Olahraga Nasional Indonesia Kabupaten Kutai Timur. Bantuan tersebut digunakan untuk menunjang kebutuhan atlet selama latihan, antara lain vitamin, makanan, minuman, dan makanan ringan.
Ketua KONI Kutai Timur, Rudy Hartono, menegaskan seluruh cabang olahraga tetap diminta menjalankan TC meskipun kepastian jumlah cabang yang dipertandingkan masih dalam pembahasan. Ia tidak ingin ketidakpastian tersebut menghentikan latihan para atlet yang telah melalui proses panjang.
“Sementara ini saya sampaikan ke ketua-ketua cabang olahraga, kita tetap saja walaupun belum ada kepastian. Laksanakan saja TC-nya, sehingga nanti saat cabang itu dipertandingkan atau tidak dipertandingkan, tidak juga mengganggu mereka,” kata Rudy Hartono.
Berdasarkan hasil pleno, sebanyak 64 cabang olahraga awalnya direncanakan masuk dalam agenda Porprov. Namun, muncul wacana dari pihak tuan rumah untuk menurunkan jumlah tersebut menjadi sekitar 50 cabang karena mempertimbangkan kesiapan tempat pertandingan, penginapan, dan fasilitas pendukung lainnya.
Rudy menyebut wacana tersebut belum menjadi keputusan akhir. KONI masih mengkaji cabang maupun nomor pertandingan yang mungkin terdampak, sekaligus mempertimbangkan keberatan dari para pengurus cabang olahraga dan pengurus provinsi.
Ia menilai pencoretan sebuah cabang secara keseluruhan dapat merugikan atlet, terutama mereka yang telah menjalani pemusatan latihan dan mengikuti babak prakualifikasi. Beberapa cabang yang memiliki catatan prestasi bahkan disebut ikut terancam tidak dipertandingkan.
“Sementara ada cabang olahraga, contoh misalnya, mereka mau tidak mempertandingkan cabang hoki. Sementara hoki kemarin peraih medali emas di PON. Kan lucu juga. Di PON bisa berprestasi, tetapi di Porprov tidak dipertandingkan,” ujarnya.
Menurut Rudy, pengurangan nomor pertandingan menjadi pilihan yang lebih adil dibanding mencoret cabang olahraga. Dengan skema tersebut, seluruh cabang yang telah ditetapkan dalam hasil pleno masih mempunyai kesempatan tampil, sementara beban penyelenggaraan dapat disesuaikan dengan kesiapan tuan rumah.
“Mudah-mudahan atas pertimbangan-pertimbangan, bukan cabang olahraganya yang dikurangi, tetapi nomor tanding saja,” tegasnya.
FORKI Kutim juga belum menerima informasi resmi mengenai kemungkinan pengurangan nomor karate. Karena itu, 18 atlet tetap dipersiapkan untuk 12 nomor pertandingan sembari menunggu keputusan KONI provinsi dan panitia besar Porprov.
Dari sisi perlengkapan, FORKI Kutim tidak menghadapi kendala berarti. Baju pertandingan, pelindung tangan, dan alat keselamatan yang digunakan pada tahun sebelumnya masih dalam kondisi baik sehingga dapat dimanfaatkan kembali tanpa pengadaan dalam jumlah besar.
Rudy menegaskan KONI Kutim tetap menyalurkan bantuan dana TC dan uji tanding kepada seluruh cabang olahraga yang direncanakan mengikuti Porprov. Bantuan diberikan agar pengurus cabang dapat meningkatkan intensitas latihan serta menguji kemampuan atlet melalui pertandingan atau kejuaraan lain.
“Semua cabang olahraga saya sampaikan agar konsentrasi melakukan TC. Dari pihak KONI juga sudah memberikan bantuan untuk dana TC maupun try-out. Mudah-mudahan dengan adanya bantuan itu, mereka bisa lebih intens lagi melakukan TC maupun try-out,” jelas Rudy.
Berdasarkan hasil babak kualifikasi, Kutai Timur berada dalam jajaran empat besar. Dengan persiapan yang terus berjalan, KONI Kutim menargetkan kontingen daerah itu mampu naik dan menembus posisi tiga besar pada Porprov.
“Kita sudah mengantongi hasil babak kualifikasi dan masuk empat besar. Mudah-mudahan dengan persiapan-persiapan yang ada ini, kita bisa masuk tiga besar,” ucapnya.
Selain persiapan atlet, penguatan organisasi juga terus dilakukan. FORKI Kutai Timur menggelar Musyawarah Cabang di Hotel Five Style Kutai Permai pada Kamis (30/7/2026). Forum tersebut menjadi bagian dari penataan kepengurusan sekaligus konsolidasi program pembinaan karate di daerah.
Rudy mengapresiasi pengurus FORKI sebelumnya yang dinilai telah memberikan ruang bagi perguruan karate untuk berkegiatan dan melahirkan atlet-atlet potensial. Setelah proses musyawarah selesai, KONI Kutim akan memberikan rekomendasi untuk penerbitan surat keputusan kepengurusan baru.
Di tengah ketidakpastian jumlah cabang dan nomor pertandingan, FORKI Kutim memilih tetap mematangkan 18 karateka binaan lokal. Latihan rutin, dukungan dana TC, serta pengalaman bertanding menjadi modal untuk mengejar tambahan medali emas sekaligus membantu Kutai Timur memenuhi target menembus tiga besar Porprov.
