Sangatta – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menyelenggarakan Festival Adat Tradisi Kuliner Nusantara sebagai bagian dari upaya merawat kebudayaan Indonesia yang menjadi jati diri bangsa. Festival ini berlangsung selama sepuluh hari, dari tanggal 2 hingga 24 November 2024, dengan puncak acara pentas seni dari paguyuban-paguyuban Nusantara pada 9 hingga 11 November.
Kabid Kebudayaan Disdikbud Kutim, Padliyansyah, menyampaikan bahwa festival ini merupakan momentum penting untuk mempererat persatuan melalui budaya, seni, dan tradisi yang beragam. “Pelaksanaan festival ini dilakukan setelah melalui pematangan tahap pra-acara. Selama sepuluh hari pelaksanaan, masyarakat akan disuguhi berbagai keunikan adat dan kuliner dari berbagai penjuru Nusantara,” ujarnya.
Paguyuban Nusantara Tampilkan Kekayaan Budaya
Festival ini diikuti oleh puluhan paguyuban dari berbagai wilayah di Indonesia. Pentas seni yang menjadi daya tarik utama festival ini menampilkan ragam budaya mulai dari Indonesia Timur, Indonesia Tengah, hingga Indonesia Barat. Paguyuban yang berpartisipasi mencakup:
- Jaranan New Joyoboyo
- Reog Singo Lawu
- Paguyuban Bali
- DPD Ikatan Keluarga Besar Sulawesi Tengah (IKBST)
- Kerukunan Keluarga Sulawesi Utara (KKSU)
- Paguyuban Wayang Panorama
- Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS)
- Paguyuban Ende Lio (NTT)
- Kerukunan Bubuhan Banjar Kutai Timur (KBBKT)
- Ikatan Keluarga Besar Sumatra (IKABES)
- Grup Mardhatillah
- Tingkilan Selera Kutai
- Dusmala (Dusun, Ma’ayan, Lawangan)
- HKST
- Paguyuban Keluarga Pasundan (PKP)
- Odah Seni Betuah
- Grup Kelangtegai
- Grup Persatuan Aneuk Naggroe Aceh Bansigom Kutim
- K-Plus
Beragam paguyuban ini mempersembahkan pertunjukan seni dan budaya yang unik. Dari tarian tradisional, musik etnik, hingga pertunjukan teater adat, semuanya menggambarkan kekayaan budaya Indonesia.
Kesenian dan Kuliner Nusantara, Ikatan Antargenerasi
Festival ini tidak hanya menampilkan seni pertunjukan tetapi juga menghadirkan berbagai kuliner tradisional dari masing-masing daerah. Stand-stand kuliner yang memamerkan makanan khas Nusantara seperti Ayam Betutu dari Bali, Coto Makassar dari Sulawesi Selatan, Papeda dari Papua, dan Nasi Liwet dari Jawa Tengah menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.
Padliyansyah menjelaskan, kegiatan ini dirancang untuk memperkuat rasa cinta generasi muda terhadap warisan budaya bangsa. “Kami ingin generasi muda tidak hanya menyaksikan, tetapi juga terlibat aktif dalam pelestarian budaya. Lewat festival ini, kita bisa menjalin ikatan antargenerasi melalui seni dan kuliner tradisional,” katanya.
Antusiasme Pengunjung Membludak
Hari pertama pelaksanaan festival langsung disambut antusias oleh masyarakat Kutim. Pengunjung dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, tampak menikmati beragam kegiatan yang disuguhkan.
Eka, seorang pengunjung asal Sangatta, mengaku kagum dengan keberagaman budaya yang ditampilkan. “Ini luar biasa! Saya bisa melihat tarian dari Aceh, musik tingkilan khas Kutai, sampai kuliner dari NTT, semuanya dalam satu tempat. Harus sering-sering diadakan acara seperti ini,” ujarnya.
Sementara itu, peserta dari Paguyuban Bali, Made Arya, mengatakan bahwa festival ini menjadi sarana penting untuk memperkenalkan budaya Bali kepada masyarakat luas. “Kami merasa terhormat bisa tampil di sini. Selain mengenalkan budaya kami, ini juga menjadi kesempatan untuk belajar tentang budaya daerah lain,” katanya.
Puncak Acara, Parade Budaya Nusantara
Pada tanggal 9 hingga 11 November, festival mencapai puncaknya dengan parade budaya Nusantara. Setiap paguyuban tampil secara bergiliran, menampilkan kekayaan budaya dari wilayahnya masing-masing.
Parade dimulai dengan suguhan seni dari Indonesia Timur, seperti tarian dari Papua dan musik Sasando dari Nusa Tenggara Timur. Dilanjutkan dengan budaya Indonesia Tengah yang menampilkan seni tari Maengket dari Sulawesi Utara dan gamelan dari Bali. Sementara itu, Indonesia Barat diwakili dengan pertunjukan Reog Ponorogo, Tari Piring dari Sumatra Barat, dan seni tingkilan khas Kutai.
Selain itu, setiap paguyuban juga memperkenalkan pakaian adat dan filosofi yang terkandung di dalamnya. Para pengunjung diajak untuk lebih memahami makna dari setiap elemen budaya yang disuguhkan.
Komitmen Melestarikan Budaya
Festival ini sekaligus menjadi bukti nyata komitmen Pemerintah Kabupaten Kutai Timur dalam melestarikan budaya lokal dan nasional. Padliyansyah berharap, acara ini bisa menjadi agenda tahunan yang dinanti masyarakat.
“Kami berkomitmen menjadikan Festival Adat Tradisi Kuliner Nusantara sebagai ajang rutin. Ini bukan hanya tentang hiburan, tetapi juga tentang pendidikan budaya, persatuan, dan pelestarian tradisi,” tegasnya.
Dengan suksesnya pelaksanaan festival ini, masyarakat Kutim diharapkan semakin mengenal dan mencintai kebudayaan Nusantara, yang pada akhirnya memperkuat rasa persatuan sebagai bangsa Indonesia.
Festival Adat Tradisi Kuliner Nusantara membuktikan bahwa budaya adalah jembatan untuk memperkuat persaudaraan di tengah keberagaman. Dengan melibatkan banyak paguyuban dari berbagai daerah, kegiatan ini tidak hanya menjadi hiburan tetapi juga ruang untuk belajar dan berbagi.
Acara ini pun menjadi pengingat bahwa di tengah modernisasi, warisan budaya harus tetap dijaga sebagai identitas bangsa yang tak tergantikan.




