Sangatta – Suasana religius dan penuh inspirasi menyelimuti Masjid Agung Al-Faruq pada Selasa (18/11/2025), saat pameran sejarah Islam dikemas lebih hidup lewat lomba bercerita kisah nabi yang melibatkan siswa SD dan MI se-Kutai Timur. Kegiatan ini menjadi puncak perayaan budaya Islam yang digelar oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim melalui Bidang Kebudayaan.
Acara tersebut tidak hanya menyuguhkan informasi sejarah lewat pameran visual, tetapi juga mengasah keberanian dan kemampuan komunikasi anak-anak dalam menyampaikan kisah-kisah inspiratif para nabi. Lomba bercerita ini digelar sejak pagi dengan antusiasme tinggi dari peserta dan para pendukung yang hadir.
Menurut Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutim, Padliyansyah, lomba bercerita menjadi sarana efektif menanamkan nilai keteladanan nabi kepada anak-anak dengan cara yang menyenangkan.
“Kami ingin anak-anak mengenal tokoh-tokoh besar dalam sejarah Islam, bukan hanya dari buku pelajaran, tapi juga melalui ekspresi dan cerita yang mereka bawakan sendiri,” ujar Padliyansyah di sela kegiatan.
Ia berharap kegiatan seperti ini bisa terus dikembangkan dan menjadi bagian dari penguatan karakter peserta didik melalui pendekatan seni dan budaya.
Hasil lomba mencatat Aira Kirana sebagai Juara I dengan skor tertinggi 640 poin. Disusul oleh Charis Amanda Aurora di posisi Juara II (635 poin) dan Naqiyya Indri Adeva sebagai Juara III (614 poin). Tiga penghargaan Harapan juga diberikan kepada Khanza Khairun Nisa (607 poin), Anastasya Safira (606 poin), dan Raina Sadira Dwi Setyo (594 poin).
Penilaian lomba mencakup aspek penguasaan materi, ekspresi, intonasi, dan keberanian tampil. Para pemenang mendapatkan piala dan hadiah edukatif sebagai bentuk apresiasi atas penampilan mereka yang memukau.
Kegiatan ini menuai respon positif dari para guru pendamping dan orang tua, yang menilai bahwa lomba semacam ini mampu membangun keberanian berbicara di depan umum sekaligus mempererat hubungan anak-anak dengan nilai-nilai agama.
Dengan suksesnya acara ini, Disdikbud Kutim membuka peluang untuk lebih banyak kegiatan tematik yang menggabungkan unsur sejarah, pendidikan, dan budaya Islam sebagai bentuk pembelajaran kontekstual bagi siswa. (ADV/AN/Diskominfo).


