Sangatta – Ketua Komisi A DPRD Kutai Timur (Kutim), Eddy Markus Palinggi, menyerukan pentingnya mendukung petani dan peternak yang memiliki tekad besar untuk berkembang, bukan hanya yang sekadar mengharapkan bantuan. Eddy menggarisbawahi potensi besar Kutim dalam mengembangkan sektor pertanian dan peternakan guna mencapai kemandirian pangan lokal. Saat ini, Kutim masih sangat bergantung pada pasokan pangan dari luar daerah. Namun, dengan pembinaan yang tepat, Kutim berpeluang menjadi pemasok pangan utama, terlebih dengan meningkatnya permintaan pasar seiring rencana pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur.
Dalam wawancara yang berlangsung di gedung DPRD Kutim pada Senin (4/11/2024), Eddy membagikan pengalaman ketika membawa para peternak dari Kutim untuk belajar langsung ke Blitar, Jawa Timur, salah satu daerah yang menjadi pemasok telur terbesar di Indonesia. “Di Blitar, produksi telur bisa mencapai 62 persen dari total produksi nasional. Ini menjadi bukti bahwa dukungan pemerintah yang tepat dapat mendorong pertumbuhan sektor peternakan,” ujar Eddy. Ia berharap pengalaman tersebut menjadi inspirasi bagi Kutim agar bisa menerapkan kebijakan serupa untuk mendukung petani dan peternak di daerah.
Dukungan Pemerintah yang Lebih Tepat Sasaran
Menurut Eddy, dukungan pemerintah bagi sektor pertanian dan peternakan di Kutim perlu lebih selektif agar benar-benar bermanfaat bagi mereka yang berkomitmen untuk maju. Bantuan yang diberikan, seperti permodalan dan subsidi, sebaiknya diberikan kepada petani dan peternak yang memiliki keberanian dan ambisi besar dalam mengembangkan usaha mereka. “Saya bilang ke dinas, dukung petani yang berani, yang ‘pikirannya gila’, yang siap berkembang. Jangan yang takut-takut. Bantuan itu harus disalurkan kepada mereka yang benar-benar punya visi besar dalam berternak atau bertani,” tegas Eddy.
Eddy menambahkan bahwa proses seleksi penerima bantuan menjadi penting agar bantuan pemerintah dapat digunakan dengan maksimal. Dengan cara ini, menurutnya, program pemberdayaan pemerintah daerah akan memberikan dampak nyata terhadap kemandirian pangan di Kutim. “Jangan sampai bantuan disalurkan kepada mereka yang tidak punya ambisi. Kita perlu petani yang siap untuk bekerja keras dan berinovasi agar tujuan kita untuk mencapai kemandirian pangan bisa tercapai,” ujar Eddy.
Potensi Besar Kutim di Sektor Pertanian dan Peternakan
Di tengah ketergantungan yang tinggi pada pasokan pangan dari luar daerah, Eddy melihat Kutim memiliki peluang besar untuk mengembangkan komoditas-komoditas penting seperti telur, jagung, dan sayur mayur secara mandiri. Kutim memiliki lahan pertanian yang cukup luas dan iklim yang mendukung untuk pengembangan berbagai jenis komoditas. “Jangan berpikir terlalu jauh tentang IKN dulu. Untuk memenuhi kebutuhan pangan Kutim sendiri saja saat ini masih banyak yang diambil dari luar daerah. Padahal potensi di sini luar biasa besar jika dikembangkan dengan benar,” jelas Eddy.
Eddy mendorong pemerintah daerah agar membuat kebijakan yang lebih strategis untuk mendorong sektor pertanian dan peternakan. Dengan kebijakan yang tepat dan dukungan yang terarah, Eddy yakin bahwa Kutim tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan pangannya sendiri tetapi juga berpotensi menjadi pemasok bagi wilayah IKN dan daerah sekitarnya di masa mendatang.
Sebagai langkah awal, Eddy menekankan perlunya kolaborasi antara pemerintah daerah dengan lembaga-lembaga terkait guna memberikan pelatihan dan pendampingan teknis kepada petani dan peternak lokal. Langkah ini diharapkan dapat membantu mereka memahami praktik-praktik yang lebih efisien dan produktif dalam bertani atau beternak. “Tanpa kolaborasi dan dukungan teknis yang memadai, sulit bagi petani kita untuk bisa bersaing dan mengembangkan usaha mereka dengan baik,” katanya.
Tantangan dan Harapan untuk Masa Depan
Kutim menghadapi berbagai tantangan dalam mencapai kemandirian pangan. Selain faktor keterbatasan sumber daya, keterampilan petani lokal juga masih perlu ditingkatkan. Eddy mengungkapkan bahwa pemerintah daerah harus berperan aktif dalam memastikan setiap bantuan yang diberikan mencapai tujuan akhirnya yaitu meningkatkan produksi pangan lokal. Menurutnya, kebijakan yang berfokus pada peningkatan kapasitas dan pemahaman teknis petani akan jauh lebih efektif dibandingkan dengan bantuan langsung yang hanya bersifat sementara.
Eddy optimis jika pemerintah dan masyarakat Kutim bekerja sama, kemandirian pangan akan segera tercapai, bahkan Kutim bisa menjadi daerah yang mampu mensuplai kebutuhan pangan bagi daerah lain. Dengan begitu, Kutim dapat berperan sebagai salah satu penyangga kebutuhan pangan di Kalimantan Timur, termasuk untuk IKN.
“DPRD Kutim akan terus mendorong kebijakan yang pro terhadap petani yang mau bekerja keras. Kami tidak ingin petani yang hanya menerima bantuan saja, tapi yang benar-benar mau berkembang,” tandas Eddy. Ia berharap agar pemerintah daerah, dinas terkait, dan seluruh elemen masyarakat bisa bahu-membahu membangun ketahanan pangan di Kutim melalui dukungan nyata kepada petani-petani yang berdedikasi.
Dengan adanya semangat dukungan ini, diharapkan Kutim bisa berkembang menjadi daerah mandiri yang tak lagi bergantung pada pasokan luar. Pemerintah dan masyarakat perlu berperan bersama untuk mewujudkan cita-cita besar ini, sehingga Kutim mampu menghadapi tantangan masa depan dengan ketahanan pangan yang kuat dan berkelanjutan.




