Kutim – Jalan menuju dunia kerja tak selalu harus berujung di pintu perusahaan. Bagi Generasi Z di Kabupaten Kutai Timur, keterampilan dan pengetahuan yang diperoleh dari pelatihan justru dapat menjadi “modal” awal untuk membangun usaha sendiri. Pendekatan tersebut kini terus didorong Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja (Distransnaker) Kabupaten Kutai Timur melalui pelatihan keterampilan, kewirausahaan, serta kolaborasi dengan lembaga pendidikan dan pelatihan kerja.
Kepala Distransnaker Kabupaten Kutai Timur, Sulisman, mengatakan pola penempatan tenaga kerja ke perusahaan tidak dapat menjadi satu-satunya jawaban bagi pertumbuhan angkatan kerja baru. Hal tersebut disampaikannya ketika diwawancarai di ruang kerjanya pada Kamis (3/9/2026). Menurutnya, jumlah pencari kerja terus bertambah, sementara kemampuan perusahaan untuk menyerap tenaga kerja tentu memiliki keterbatasan. Karena itu, generasi muda perlu dibekali kemampuan yang memungkinkan mereka memiliki alternatif selain bergantung pada lowongan pekerjaan.
“Sebenarnya kalau berharap di pelatihan saja, terus kemudian kita salurkan ke perusahaan, mungkin tidak maksimal juga sebenarnya untuk Gen Z ini,” kata Sulisman.
Ia menjelaskan, pelatihan yang diberikan pemerintah tidak semata-mata diarahkan agar peserta diterima bekerja di perusahaan. Pelatihan juga dapat menjadi bekal pengetahuan, keterampilan dan kemampuan praktis yang nantinya digunakan peserta untuk memulai kegiatan usaha secara mandiri.
Distransnaker Kutai Timur, kata Sulisman, juga memiliki kapasitas untuk menyelenggarakan berbagai pelatihan, termasuk bidang teknologi informasi. Namun, melihat kebutuhan generasi muda yang semakin beragam, pemerintah juga berupaya memperluas jenis pelatihan dengan memberikan keterampilan yang berorientasi pada kewirausahaan.
“Kita berusaha untuk melakukan pelatihan-pelatihan yang bersifat kewirausahaan,” ujarnya.
Pelatihan kewirausahaan tersebut bukan berupa pemberian modal dana kepada peserta. Sebaliknya, keterampilan, wawasan, pengalaman dan kompetensi yang diperoleh selama mengikuti pelatihan diharapkan menjadi modal utama bagi generasi muda untuk mulai membangun usaha sesuai kemampuan dan peluang yang tersedia di lingkungannya.
“Kalau kita memberikan pelatihan yang sifatnya kewirausahaan mungkin mereka lebih manfaat di situ, dan mereka juga malah justru kita harapkan bisa menarik karyawan. Karena mereka bisa buka usaha sendiri,” jelasnya.
Menurut Sulisman, apabila keterampilan hasil pelatihan mampu dikembangkan menjadi usaha, manfaatnya tidak hanya dirasakan peserta. Dalam jangka panjang, usaha yang berkembang juga berpotensi menciptakan kesempatan kerja baru bagi masyarakat sekitar. Dengan demikian, angkatan kerja muda tidak hanya diposisikan sebagai pencari pekerjaan, tetapi juga diarahkan agar memiliki kemampuan menjadi pelaku usaha dan pencipta lapangan kerja.
Selain memberikan perhatian kepada Gen Z, Distransnaker Kutai Timur terus memperkuat hubungan dengan sekolah menengah kejuruan serta lembaga pelatihan kerja atau LPK. Keberadaan lembaga tersebut dinilai strategis dalam menyiapkan kompetensi masyarakat sebelum memasuki dunia kerja maupun memulai kegiatan usaha.
Sulisman mengatakan LPK yang berada dalam pembinaan pemerintah tetap mendapatkan dukungan. Meski demikian, lembaga pelatihan juga didorong agar tidak hanya bergantung pada program maupun anggaran pemerintah. Mereka diharapkan mampu membangun komunikasi dan kerja sama dengan perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Kutai Timur.
“LPK-LPK itu kan binaan kita. Jadi kita tetap support ke LPK-LPK yang ada. Tapi kita dorong juga mereka supaya bisa berkolaborasi dan berkomunikasi dengan perusahaan-perusahaan,” kata Sulisman.
Kolaborasi dengan perusahaan, lanjutnya, dapat dilakukan melalui berbagai skema, termasuk dukungan program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR. Kerja sama tersebut dapat membantu penyelenggaraan pelatihan sekaligus membuka ruang agar kompetensi yang diajarkan lebih sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan kondisi lapangan.
Strategi peningkatan kompetensi itu juga berkaitan dengan upaya memperluas kesempatan kerja ke berbagai wilayah Kutai Timur, tidak hanya terpusat di Sangatta maupun Bengalon. Sulisman menegaskan prinsip prioritas bagi tenaga kerja lokal tetap berlaku pada perusahaan yang beroperasi di sejumlah kecamatan. Masyarakat yang berada di sekitar wilayah operasional perusahaan mempunyai peluang untuk diprioritaskan selama memenuhi kompetensi yang dipersyaratkan.
“Di manapun mereka tetap membuka peluang yang 80-20. Kalau memang kompetensinya sesuai dengan harapan mereka, mereka lebih prioritaskan yang dekat dengan wilayah mereka,” katanya.
Melalui pelatihan keterampilan dan kewirausahaan, kerja sama dengan sekolah, pembinaan LPK serta kolaborasi bersama perusahaan, Distransnaker Kutai Timur berharap generasi muda memiliki lebih banyak pilihan dalam menghadapi dunia kerja. Pelatihan tersebut diharapkan menjadi modal pengetahuan dan keterampilan bagi Gen Z untuk tidak hanya mencari peluang kerja, tetapi juga berani membangun usaha dan menciptakan peluang ekonomi secara mandiri.



