Sangatta – Di balik angka yang mencemaskan, ada optimisme yang tumbuh. Hingga Agustus 2025, Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) mencatat ada 104 kasus baru HIV/AIDS di Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Angka ini menandai peningkatan kasus yang signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya, namun juga mencerminkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan dini.
Plt Kepala Dinas Kesehatan Kutim, Sumarno, menilai penemuan kasus baru justru menjadi hal yang positif. “Kalau HIV banyak ditemukan justru bagus, karena bisa cepat memutus mata rantai penularan. Sama seperti TBC, kalau orang enggan periksa lalu beraktivitas bebas, penularannya sulit dikendalikan,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (18/11/2025).
Menurut Sumarno, keberhasilan penanggulangan HIV tidak hanya bergantung pada layanan pengobatan, tetapi juga pada edukasi dan pendampingan berkelanjutan bagi para penyintas. Untuk itu, Dinkes Kutim memperkuat layanan pendampingan medis dan psikologis.
Saat ini, tujuh penyuluh HIV aktif diterjunkan ke lapangan untuk memberikan edukasi langsung kepada masyarakat. Mereka menyasar berbagai kelompok rentan seperti pelajar, komunitas sopir, dan pekerja di Tempat Hiburan Malam (THM). Sumarno menjelaskan, pihaknya bahkan menerapkan tiga metode pemeriksaan berbeda untuk kelompok tertentu demi akurasi hasil.
“Bagi sopir atau pekerja hiburan malam, kami lakukan pemeriksaan hingga tiga kali dengan alat berbeda,” jelasnya.
Setiap pasien positif HIV juga akan menjalani proses screening lanjutan guna melacak potensi penularan melalui kontak erat. Setelah itu, pasien akan mendapatkan terapi Antiretroviral (ARV) dan pendampingan secara berkala untuk memastikan mereka tetap disiplin menjalani pengobatan.
Yang menarik, Dinkes Kutim juga melibatkan para penyintas HIV yang telah pulih untuk menjadi kader edukasi. Kehadiran mereka di tengah masyarakat terbukti lebih efektif menyampaikan pesan dan mengikis stigma yang masih melekat.
“Mereka bisa berbagi pengalaman langsung, menunjukkan bahwa HIV bisa dikendalikan dan tidak perlu ditakuti berlebihan,” pungkas Sumarno.
Dengan pendekatan yang inklusif dan edukatif, Kutai Timur berharap dapat menekan laju penularan HIV/AIDS dan meningkatkan kualitas hidup para penyintas secara berkelanjutan. (ADV).


