Ada yang terasa berbeda di Tenggarong pada Minggu malam, 23 Agustus 2026. Kota yang berada di tepian Sungai Mahakam itu mendadak ramai oleh suara gitar, dentuman drum, dan teriakan penonton. Amphitheater Taman Kota Raja dipadati warga yang datang untuk menikmati Etam Fest 2026.

Menariknya, bukan cuma anak muda yang ikut meramaikan acara. Orang tua, keluarga, komunitas musik, hingga warga yang datang sendirian terlihat menikmati suasana. Ketika Kapital naik ke panggung, kepala penonton pun mulai bergoyang mengikuti musik cadas khas mereka.

Di tengah kemeriahan tersebut, muncul satu nama yang membuat banyak orang bernostalgia, yakni Rita Widyasari.

Bagi generasi baru yang mengenal Tenggarong lewat Etam Fest, nama Rita mungkin belum terlalu familiar. Namun, bagi warga yang mengikuti perkembangan Kutai Kartanegara (Kukar) lebih dari satu dekade lalu, Rita punya julukan yang cukup ikonik, yakni “Bupati Rocker”.

Julukan tersebut bukan muncul tanpa alasan. Saat memimpin Kukar pada 2010–2015, Rita dikenal punya perhatian besar terhadap perkembangan musik, terutama rock dan metal. Salah satu warisan paling diingat dari masa tersebut adalah Rock in Borneo, festival musik yang pernah membawa sejumlah nama besar dunia ke Tenggarong.

Kini, bertahun-tahun setelah era tersebut berlalu, Etam Fest 2026 seperti membuka kembali album lama itu. Bedanya, wajah para pengisi acaranya lebih beragam dan musik modern bertemu langsung dengan kesenian tradisional Kutai.

Kenapa Rita Widyasari Dijuluki “Bupati Rocker”? Ini Cerita di Baliknya

Kalau ada yang bertanya kenapa Rita Widyasari sampai mendapat julukan “Bupati Rocker”, jawabannya bisa dilihat dari keberaniannya membawa musik cadas ke panggung daerah.

Pada masa kepemimpinannya, Tenggarong pernah menjadi tempat tampilnya sejumlah band rock dan metal internasional. Sepultura hadir pada 2012, disusul Halloween pada 2013 dan Testament pada tahun berikutnya. Nama Skid Row juga ikut menghiasi Rock in Borneo dan menjadi salah satu momen yang masih sering dikenang penggemar musik keras di Kalimantan Timur.

Yang membuatnya semakin menarik, konser-konser tersebut bisa dinikmati masyarakat secara gratis. Tidak perlu membeli tiket mahal untuk melihat band yang biasanya hanya bisa ditonton melalui televisi, CD, atau internet.

Warga dari Samarinda dan Balikpapan pun rela menempuh perjalanan menuju Tenggarong demi menyaksikan pertunjukan tersebut. Stadion Aji Imbut kala itu menjadi salah satu titik berkumpulnya para pencinta musik rock dari berbagai daerah.

Namun, Rita tidak hanya dikenal karena mendatangkan musisi dari luar negeri. Ia juga beberapa kali menunjukkan bahwa dirinya memang menikmati musik, bukan sekadar menjadikannya bagian dari agenda pemerintahan.

Salah satu momen yang cukup melekat adalah ketika Rita naik panggung bersama Kotak dalam acara Rockin Woman’s Day 2014. Ia berduet dengan Tantri, vokalis Kotak, membawakan lagu “Pelan-Pelan Saja”.

Momen tersebut terasa berbeda karena Rita tampil dengan santai dan terlihat menikmati suasana. Bukan sekadar berdiri di panggung untuk memberikan sambutan, ia benar-benar ikut bernyanyi.

Cerita lain datang dari Michael Learns To Rock atau MLTR. Rita pernah mengungkapkan bahwa ketika masih muda, ia mendapat kaset MLTR dari tiga teman prianya. Karena itu, ketika MLTR tampil di Rock in Borneo 2016, kedatangan grup asal Denmark tersebut punya nilai emosional tersendiri baginya.

Bagi Rita, musik akhirnya bukan hanya soal hiburan. Ada kenangan, pengalaman, dan kecintaan pribadi yang ikut terbawa ke dalam kebijakan budaya daerah.

Hal lain yang menarik adalah keberadaan Rockin Woman’s Day. Acara tersebut menjadi ruang bagi musisi perempuan untuk menunjukkan kemampuan mereka di genre rock yang selama ini sering dianggap sebagai dunia laki-laki.

Nama seperti Regina, Kotak, Kapital, Biang Kerock, dan Rantai pernah mengisi panggung tersebut. Pesannya cukup jelas, perempuan juga punya ruang untuk berkarya, bersuara, dan tampil percaya diri lewat musik rock.

Rita bahkan memandang musik rock sebagai salah satu bentuk emansipasi. Menurutnya, kritik dari masyarakat justru perlu didengarkan karena kritik bisa menjadi bagian dari proses membangun.

Pandangan tersebut membuat sosok “Bupati Rocker” terasa lebih dari sekadar gimmick. Ada upaya menjadikan musik sebagai ruang ekspresi masyarakat.

Dari Rock in Borneo ke Etam Fest 2026, Api Musik Tenggarong Menyala Lagi

Perjalanan musik di Tenggarong kemudian memasuki babak yang lebih rumit. Pada September 2017, ketika Rita baru saja terlibat sebagai produser eksekutif Rock in Borneo yang menghadirkan Skid Row, ia ditetapkan KPK sebagai tersangka dalam perkara korupsi.

Peristiwa tersebut menjadi bagian kelam dalam perjalanan karier politiknya dan kemudian turut mewarnai cara publik melihat sosok Rita. Di satu sisi, ia dikenal sebagai kepala daerah yang berani menggelar pertunjukan musik berskala besar. Di sisi lain, perjalanan hukumnya menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari sejarahnya.

Namun, membicarakan kembali era tersebut tidak harus berarti menghapus salah satu sisi sejarah. Jejak budaya yang sudah terbentuk tetap menarik untuk dilihat, terutama bagaimana musik pernah menjadi bagian dari identitas Kukar. Semangat itulah yang terasa kembali ketika Etam Fest 2026 digelar.

Pada 23 Agustus 2026, Rita kembali muncul di panggung dan berkolaborasi dengan Syarla Marz, penyanyi asal Kalimantan Timur yang dikenal sebagai jebolan Indonesian Idol. Kehadirannya langsung membawa suasana nostalgia bagi sebagian warga yang masih mengingat masa Rock in Borneo.

Yang semakin membuat suasana terasa seperti “flashback” adalah kehadiran Kapital, band metal asal Tenggarong yang sebelumnya juga pernah menjadi bagian dari panggung musik cadas Kukar.

Kapital bukan satu-satunya pengisi acara. Etam Fest 2026 juga menghadirkan Zealous dengan warna rock indie, Enji Band, Voice, serta Rebel & Cookies.

Namun, festival ini tidak berhenti pada musik modern. Ada pula penampilan tari tradisional dari Sanggar Tari Bebaya dan Sanggar Tari Tigatawai.

Di sinilah Etam Fest punya daya tarik tersendiri. Festival tersebut tidak sekadar mencoba menghidupkan kembali nostalgia musik rock, tetapi juga mempertemukan dua dunia yang sekilas berbeda, musik modern dan budaya tradisional.

Gitar listrik dan tarian tradisional bisa hadir di panggung yang sama. Musik rock berdampingan dengan identitas budaya Kutai. Bagi Tenggarong, perpaduan seperti ini justru bisa menjadi ciri khas yang sulit ditemukan di tempat lain.

Warga Tenggarong Kangen Festival Gratis, Tapi Ada Harapan Lebih Besar

Salah satu hal yang paling terasa dari Etam Fest 2026 adalah antusiasme warga. Bagi masyarakat lokal, acara seperti ini punya nilai sederhana tetapi penting. Mereka bisa menikmati hiburan bersama keluarga tanpa harus pergi jauh ke Samarinda atau Balikpapan. Apalagi ketika pertunjukan digelar gratis dan berada di tengah kota.

Anak muda mendapatkan ruang untuk menikmati musik. Komunitas bisa berkumpul. Pelaku UMKM memiliki peluang mendapatkan pembeli. Sementara keluarga bisa menghabiskan malam dengan suasana yang berbeda. Tetapi di balik keseruan itu, nostalgia terhadap Rock in Borneo juga muncul.

Sebagian warga masih membayangkan bagaimana rasanya melihat band internasional tampil langsung di Tenggarong. Era ketika nama-nama seperti Sepultura, Halloween, Testament, hingga Skid Row menjadi bagian dari cerita kota tersebut tentu meninggalkan kenangan yang sulit digantikan.

Dari sinilah muncul harapan agar festival seperti Etam Fest tidak hanya hadir sesekali. Warga tentu ingin acara musik dan budaya bisa menjadi agenda tahunan yang konsisten.

Tantangannya jelas bukan kecil. Festival gratis membutuhkan biaya besar. Pergantian kepemimpinan, perubahan prioritas anggaran, hingga kebutuhan penyelenggaraan teknis bisa membuat sebuah acara sulit bertahan dalam jangka panjang. Karena itu, keberlanjutan festival sebaiknya tidak hanya bergantung pada anggaran pemerintah daerah.

Kolaborasi bisa menjadi jalan keluar. Pemerintah dapat menggandeng sponsor lokal, pelaku UMKM, perusahaan, komunitas musik, seniman, dan berbagai pihak yang punya kepentingan terhadap perkembangan ekonomi kreatif Kukar.

Dengan model seperti itu, festival tidak hanya menjadi acara hiburan, tetapi juga bisa menciptakan ekosistem. Musisi mendapatkan panggung, UMKM memperoleh pasar, komunitas memiliki ruang berkegiatan, dan pemerintah mendapatkan kesempatan memperkuat citra Tenggarong sebagai kota budaya sekaligus kota kreatif.

Etam Fest 2026 Bukan Sekadar Nostalgia, Ini Sinyal Tenggarong Bisa Bangkit Lagi

Malam di Amphitheater Taman Kota Raja pada 23 Agustus 2026 mungkin hanya berlangsung beberapa jam. Namun, gaungnya bisa lebih panjang dari itu.

Etam Fest 2026 menunjukkan bahwa masyarakat Tenggarong masih punya antusiasme terhadap festival musik. Lebih menarik lagi, festival tersebut mampu mempertemukan generasi lama yang rindu Rock in Borneo dengan generasi baru yang punya selera musik berbeda.

Nama Rita Widyasari kembali muncul bukan semata karena masa lalunya sebagai “Bupati Rocker”, tetapi karena kehadirannya menjadi penghubung antara dua periode.

Ada era ketika Tenggarong menjadi sorotan karena mendatangkan band rock dunia. Ada pula era sekarang ketika festival lokal mencoba membangun identitas baru dengan memadukan musik modern dan budaya tradisional.

Sejarah tentu memiliki banyak sisi. Masa lalu Rita juga tidak lepas dari persoalan hukum yang menjadi catatan penting dalam perjalanan hidupnya. Namun, pada saat yang sama, jejak perkembangan musik di Kukar tetap menarik untuk dibicarakan secara objektif.

Etam Fest 2026 seolah memberikan pesan sederhana, bahwa api musik Tenggarong belum benar-benar padam.

Dari Kapital hingga Zealous, dari Syarla Marz hingga sanggar tari tradisional, semuanya berada dalam satu panggung dan membawa warna masing-masing.

Kalau konsistensi bisa dijaga, bukan mustahil Tenggarong kembali dikenal sebagai salah satu kota festival musik yang diperhitungkan di Kalimantan. Bukan dengan mengulang masa lalu mentah-mentah, melainkan dengan mengambil semangat terbaiknya lalu mengemasnya sesuai zaman.

Karena, sebuah kota tidak hanya dikenang karena gedung dan jalannya. Kota juga hidup lewat suara, karya, komunitas, dan orang-orang yang berani menciptakan sesuatu.

Dan malam itu, Tenggarong kembali membuktikannya.

Oleh: Riyawan S,Hut (Pemerhati Sosial & Budaya) 

Silakan Bekomentar
Share.
Exit mobile version