Sangatta – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) kini semakin konkret dalam menanggulangi persoalan anak tidak sekolah (ATS) lewat program inovatif bertajuk Strategi Anti Anak Tidak Sekolah atau SITISEK. Program ini menyasar perbaikan sistem internal dan kolaborasi eksternal yang terstruktur untuk mengurangi angka ATS hingga 90 persen dalam waktu satu tahun.
Kepala Disdikbud Kutim, Mulyono, menjelaskan bahwa proyek SITISEK dirancang sebagai solusi menyeluruh berbasis evaluasi organisasi dan data empiris. “Permasalahan ATS harus diselesaikan dengan strategi menyeluruh. Tidak cukup hanya dari sisi anggaran, tapi juga dari data yang akurat, kolaborasi, dan komitmen semua pihak,” ujarnya di Hotel Royal Victoria Sangatta, Jumat (21/11/2025).
Pada lingkup internal, SITISEK melibatkan pembentukan Tim Penanganan Anak Tidak Sekolah, verifikasi data anak putus sekolah yang terintegrasi dengan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) serta TP PKK, rehabilitasi ruang kelas, hingga penyediaan seragam, buku, dan biaya dasar pendidikan gratis. Target outcome internal dari program ini adalah meningkatnya efisiensi organisasi serta ketepatan data ATS, dengan harapan penurunan angka drop-out sebesar 70–90% dalam setahun.
“Dengan anggaran pendidikan yang sudah dialokasikan lebih dari 20 persen dari APBD, kami ingin memastikan output program ini benar-benar terasa dampaknya,” kata Mulyono menegaskan kekuatan internal yang dimiliki Kutim.
Adapun pada lingkup eksternal, program SITISEK menjalin kolaborasi luas dengan tokoh adat, tokoh agama, organisasi masyarakat, sektor swasta, dan komunitas lokal. Sinergi ini dirancang untuk menjawab tantangan seperti kemiskinan struktural, pernikahan usia dini, isolasi geografis, hingga pekerja anak—faktor-faktor utama yang menyebabkan tingginya angka ATS.
SITISEK juga dirancang untuk memanfaatkan peluang dari program nasional serta dukungan Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi di Kutim, guna memperluas jangkauan dan mempercepat hasil intervensi.
“Kolaborasi multisektor adalah kunci. Ini bukan hanya program dinas pendidikan, tapi gerakan bersama seluruh elemen masyarakat,” tambah Mulyono.
Dengan pendekatan sistemik ini, Disdikbud Kutai Timur optimis SITISEK mampu menjadi model nasional dalam penanganan anak tidak sekolah, khususnya di daerah yang memiliki tantangan geografis dan sosial ekonomi seperti Kutim. (ADV).


