Samarinda – Di tengah lesunya aktivitas belanja di warung-warung kecil, secercah harapan hadir melalui langkah sederhana yang menyasar dua persoalan sekaligus: membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pokok dan menghidupkan kembali denyut ekonomi toko kelontong. Inisiatif itu datang dari Anggota Komisi II DPRD Kota Samarinda, Sani Bin Husein, yang menggulirkan program Ayo Belanja di Toko Tetangga menggunakan dana pribadinya.

Program tersebut memungkinkan masyarakat membeli LPG 3 kilogram, gula pasir 1 kilogram, maupun minyak goreng 1 liter dengan harga tebus hanya Rp10 ribu menggunakan kupon subsidi. Selisih harga tetap dibayarkan penuh kepada pedagang oleh Sani sehingga para pemilik toko tidak mengalami kerugian. Program ini mulai dijalankan setelah ia menerima banyak keluhan mengenai menurunnya omzet toko kelontong akibat melemahnya daya beli masyarakat.

“Saya berpikir kalau toko sepi berarti ada dua penyebabnya, daya beli masyarakat menurun atau harga barang yang sudah tidak terjangkau. Dari situ saya mencari solusi yang bisa saya lakukan sendiri,” ujar Sani, saat ditemui di DPRD Samarinda, Senin (13/7/2026).

Ia menjelaskan bahwa subsidi diberikan langsung dari gaji pribadinya tanpa melibatkan anggaran pemerintah maupun dana APBD. Menurutnya, pedagang tetap menerima pembayaran sesuai harga normal karena kekurangan nilai pembelian ditanggung olehnya.

“Gas dijual Rp10 ribu kepada warga, sisanya saya bayar. Begitu juga gula dan minyak goreng. Jadi pedagang tidak dirugikan, masyarakat terbantu,” katanya.

Selama kurang lebih enam bulan pelaksanaan program, Sani mengaku telah mengalokasikan sekitar Rp100 juta untuk membiayai subsidi tersebut. Meski membutuhkan dana yang tidak sedikit, ia menilai manfaat yang dirasakan masyarakat jauh lebih besar karena mampu meringankan beban kebutuhan sehari-hari sekaligus menjaga keberlangsungan usaha toko kelontong di lingkungan permukiman.

Selain membantu ekonomi keluarga, program tersebut juga dirancang untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam berbagai kegiatan sosial. Kupon subsidi diprioritaskan bagi warga yang aktif mengikuti kerja bakti, posyandu, senam bersama, pengajian, maupun kegiatan kemasyarakatan lainnya.

“Saya ingin kupon ini juga mendorong partisipasi masyarakat. Yang aktif di lingkungan, ikut kerja bakti, posyandu, atau kegiatan sosial, mereka bisa mendapatkan kupon,” jelasnya.

Menurut Sani, pendekatan tersebut memberikan dampak positif di luar aspek ekonomi. Berbagai kegiatan masyarakat yang sebelumnya kurang diminati kini kembali ramai karena warga terdorong untuk lebih aktif berpartisipasi.

“Efeknya bukan hanya membantu ekonomi warga, tetapi juga membuat kegiatan masyarakat kembali hidup. Posyandu ramai, kerja bakti ramai, senam juga ramai,” ungkapnya.

Ia mengaku sempat mempertimbangkan untuk menghentikan program karena besarnya biaya yang harus ditanggung. Namun, melihat masih banyak warga yang mengalami kesulitan mendapatkan LPG bersubsidi dan kebutuhan pokok lainnya, program tersebut akhirnya tetap dilanjutkan.

Sani berharap langkah sederhana yang dilakukannya dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk saling membantu sesuai kemampuan masing-masing. Baginya, upaya kecil yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus memperkuat solidaritas sosial di lingkungan sekitar.

“Saya tidak bisa membantu semua orang. Tapi kalau bisa membantu orang-orang di sekitar saya, itu sudah cukup. Yang penting masyarakat bisa sedikit lebih ringan memenuhi kebutuhan sehari-hari,” tutupnya. (ADV).

Silakan Bekomentar
Share.
Exit mobile version