Sangatta – Pentas Seni dan Festival Adat Tradisi Kuliner Nusantara resmi dibuka pada tanggal 2 November 2024 oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Kabupaten Kutai Timur, Poniso Suryo Renggono. Acara ini menjadi momentum penting untuk mempererat persatuan dan mempromosikan kekayaan budaya di tengah keberagaman masyarakat Kutim.
Dalam sambutannya, Poniso menegaskan pentingnya melestarikan budaya Nusantara sebagai salah satu upaya membangun karakter bangsa. “Festival ini adalah wujud nyata upaya kita bersama dalam merawat kebhinekaan yang ada di Kutai Timur tercinta. Tidak hanya sebagai ajang hiburan, tetapi juga sebagai wadah edukasi bagi masyarakat untuk lebih memahami dan mencintai tradisi leluhur,” ujarnya di Polder Ilham Maulana, Sabtu (2/11/2024).
Festival Meriah Selama Sepuluh Hari
Festival ini berlangsung selama sepuluh hari, dari 2 hingga 24 November 2024, dengan puncak acara yang menampilkan kompilasi budaya Nusantara pada 9 hingga 11 November. Kompilasi ini dibagi berdasarkan tiga wilayah besar Indonesia: Timur, Tengah, dan Barat.
Paguyuban adat yang berdomisili di Kutai Timur turut serta memeriahkan acara ini dengan mempersembahkan seni, tradisi, dan kuliner khas dari daerah asal mereka. Festival ini memberikan ruang bagi mereka untuk memperkenalkan budaya leluhur kepada masyarakat luas.
Poniso Suryo Renggono juga menekankan bahwa keberadaan festival ini selaras dengan Undang-Undang No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, khususnya pada Pasal 7 yang mengamanatkan pemerintah pusat dan daerah untuk mengarusutamakan kebudayaan melalui pendidikan.
Kuliner Nusantara yang Menggoda Selera
Salah satu daya tarik utama dari festival ini adalah sajian kuliner khas Nusantara. Makanan-makanan seperti Papeda dari Papua, Coto Makassar dari Sulawesi Selatan, dan Nasi Liwet dari Jawa Tengah menjadi favorit pengunjung.
Pemerintah Kabupaten Kutai Timur menyediakan tenda dan booth bagi peserta untuk menampilkan makanan khas mereka. Sebanyak 25 pelaku UMKM turut ambil bagian dalam memperkenalkan kuliner tradisional kepada masyarakat.
Eka, salah satu pengunjung asal Sangatta, mengungkapkan kegembiraannya bisa mencicipi berbagai kuliner tanpa harus bepergian jauh. “Saya merasa bangga bisa menikmati makanan dari berbagai daerah di Indonesia dalam satu tempat. Ini pengalaman yang luar biasa,” katanya.
Pentingnya Melestarikan Tradisi di Era Modern
Dalam era globalisasi, tradisi lokal sering kali terancam oleh budaya modern yang terus berkembang. Poniso menyoroti pentingnya mempertahankan tradisi leluhur sebagai keunggulan dan identitas masyarakat Indonesia.
“Dengan adanya invasi budaya modern, kita dihadapkan pada tantangan besar untuk menjaga tradisi agar tidak tergerus. Justru tradisi inilah yang menjadi keunggulan kita sebagai masyarakat Indonesia, khususnya di Kutai Timur,” ungkapnya.
Poniso juga berharap bahwa festival ini dapat menjadi salah satu cara untuk mengedukasi generasi muda tentang pentingnya melestarikan adat dan budaya. “Generasi muda harus menjadi garda terdepan dalam menjaga kebudayaan kita. Melalui festival ini, kita memberikan ruang bagi mereka untuk belajar dan mencintai budaya leluhur,” tambahnya.
Festival Sebagai Wadah Pemajuan Kebudayaan
Sebagai bagian dari visi pemerintah dalam memajukan kebudayaan, festival ini diharapkan menjadi agenda tahunan yang terus berkembang. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kutim berkomitmen menjadikan festival ini sebagai platform untuk memperkenalkan kembali adat istiadat yang harus dipertahankan.
Kabid Kebudayaan Disdikbud Kutim, Padliyansyah, menyebutkan bahwa festival ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga memiliki misi yang lebih besar, yaitu mengedukasi masyarakat tentang pentingnya merawat kebudayaan.
“Kami ingin masyarakat tidak hanya menikmati pertunjukan seni dan kuliner, tetapi juga memahami nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Ini adalah cara kami merawat bersama kebudayaan Nusantara yang hadir di Kutim,” ujarnya.
Antusiasme Pengunjung Tinggi
Festival ini menarik perhatian ribuan pengunjung selama sepuluh hari pelaksanaannya, dengan rata-rata 500 hingga 800 orang setiap hari. Pengunjung datang dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa, yang menikmati ragam seni, budaya, dan kuliner yang disuguhkan.
Rina, seorang ibu rumah tangga yang datang bersama keluarganya, merasa bangga melihat keragaman budaya yang ditampilkan. “Saya sangat senang bisa mengenalkan anak-anak saya pada budaya Indonesia. Ini penting agar mereka tahu dan mencintai warisan nenek moyang kita,” ujarnya.
Penutup: Perayaan untuk Semua
Pentas Seni dan Festival Adat Tradisi Kuliner Nusantara di Kutim adalah bukti nyata bagaimana seni, budaya, dan kuliner dapat menjadi jembatan untuk mempererat persatuan di tengah keberagaman. Festival ini tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga ruang untuk belajar, berbagi, dan merayakan keunikan budaya Indonesia.
Dengan kesuksesan acara ini, pemerintah Kutai Timur berharap festival ini terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk melakukan hal serupa. “Mari kita rawat bersama kebudayaan kita sebagai jati diri bangsa,” tutup Poniso.




