Kutim – Di tengah berkembangnya sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), Pemerintah Desa Suka Rahmat, Kabupaten Kutai Timur, terus mendorong lahirnya produk-produk unggulan yang memiliki identitas lokal. Salah satunya adalah Batik Suka Rahmat, kain batik dengan motif utama batu bata yang menjadi ciri khas desa sekaligus mencerminkan sejarah kehidupan masyarakat setempat.

Batik tersebut diproduksi oleh satu orang pengrajin yang mulai mengembangkan motif khas Desa Suka Rahmat. Meski jumlah pengrajin masih terbatas, pemerintah desa optimistis produk tersebut memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi ikon UMKM sekaligus buah tangan khas dari Desa Suka Rahmat.

Kepala Desa Suka Rahmat, Hasnawati, mengatakan pemerintah desa terus memberikan dukungan terhadap pengembangan Batik Suka Rahmat agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

“Kami terus mendukung pengembangan Batik Suka Rahmat sebagai salah satu produk unggulan UMKM desa. Kami berharap batik ini tidak hanya dikenal masyarakat lokal, tetapi juga menjadi oleh-oleh khas Desa Suka Rahmat yang dicari wisatawan maupun tamu yang datang ke desa,” ujar Hasnawati.

Menurutnya, keunikan batik tersebut terletak pada motif batu bata yang menjadi elemen utama desain. Motif itu dipilih bukan tanpa alasan, melainkan sebagai simbol sejarah dan aktivitas masyarakat yang telah lama berkembang di Desa Suka Rahmat.

“Filosofi motif batu bata ini menggambarkan mata pencaharian masyarakat, khususnya warga keturunan Madura yang sejak lama dikenal sebagai pengrajin batu bata di Desa Suka Rahmat. Motif ini menjadi bentuk penghargaan terhadap keberagaman budaya dan sejarah yang tumbuh di desa kami,” katanya.

Selain motif batu bata, Batik Suka Rahmat juga memadukan ornamen budaya dari berbagai suku yang hidup berdampingan di desa tersebut, seperti motif khas Toraja, Kutai, Bugis, dan Dayak. Perpaduan tersebut mencerminkan keberagaman masyarakat Desa Suka Rahmat yang selama ini hidup rukun dan saling melengkapi.

Hasnawati menjelaskan, meski saat ini baru dikerjakan oleh satu orang pengrajin, pemerintah desa akan terus mendorong peningkatan kapasitas produksi melalui pembinaan UMKM dan pelatihan keterampilan. Langkah tersebut diharapkan mampu melahirkan lebih banyak perajin sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.

Ia mengungkapkan, Batik Suka Rahmat telah mendapat respons positif dari berbagai kalangan. Produk tersebut beberapa kali dipesan oleh perusahaan-perusahaan yang beroperasi di sekitar desa untuk dijadikan cendera mata atau merchandise bagi tamu perusahaan. Selain itu, batik khas Desa Suka Rahmat juga telah dikenakan oleh sejumlah pejabat di Kabupaten Kutai Timur dalam berbagai kegiatan.

Menurut Hasnawati, hal tersebut menjadi bukti bahwa batik karya masyarakat desa memiliki kualitas dan daya tarik yang mampu bersaing dengan produk batik dari daerah lain. Pemerintah desa pun akan terus memperluas promosi melalui berbagai pameran UMKM dan kegiatan pemerintah agar Batik Suka Rahmat semakin dikenal masyarakat.

Ke depan, Batik Suka Rahmat diharapkan tidak hanya menjadi produk ekonomi kreatif, tetapi juga menjadi identitas budaya desa yang mampu memperkuat sektor pariwisata dan meningkatkan pendapatan masyarakat. Dengan mengangkat nilai sejarah, keberagaman budaya, dan kreativitas masyarakat, pemerintah desa optimistis batik khas ini akan menjadi salah satu kebanggaan baru Kabupaten Kutai Timur.

Silakan Bekomentar
Share.
Exit mobile version