Kutim – Jejak masa lalu tak boleh hanya menjadi “cerita yang berdebu” di dalam arsip. Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mendorong kalangan pelajar menjadi generasi penjaga sejarah daerah dengan menggali sumber, mendokumentasikan fakta, kemudian mengemasnya dalam storytelling dan konten digital yang dekat dengan kehidupan anak muda.
Dorongan tersebut disampaikan dalam Workshop Storytelling dan Digital Content Sejarah Lokal di Hotel Zenova Royale, Rabu (9/9/2026). Kegiatan ini diselenggarakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Timur. Kegiatan melibatkan 15 pelajar jenjang SMA, SMK, dan MA yang berasal dari sejumlah sekolah di Kecamatan Sangatta Utara, Sangatta Selatan, hingga Sangkulirang. Melalui pelatihan ini, peserta tidak hanya diperkenalkan pada teknik bercerita, tetapi juga diarahkan memahami cara mencari, memeriksa, dan mengolah sumber sejarah sebelum disampaikan kepada publik.
Wakil Bupati Kutai Timur Mahyunadi menilai kegiatan tersebut harus menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan lebih jauh, bukan semata menjadi agenda rutin pemerintahan. Ia berharap peserta memiliki kemampuan yang kelak dapat digunakan untuk mengenalkan perjalanan Kutai Timur secara menarik sekaligus bertanggung jawab.
“Acara ini jangan hanya sekadar menghabiskan anggaran, lalu dipertanggungjawabkan, kemudian selesai. Tetapi harus memberi manfaat kepada Kutai Timur secara umum, khususnya kepada peserta yang nantinya bisa menjadi talent, memiliki bakat dan kemampuan untuk menyampaikan storytelling terhadap sejarah Kutai Timur,” kata Mahyunadi dalam sambutannya.
Ia menekankan bahwa sejarah mempunyai posisi penting dalam membangun identitas sebuah daerah. Namun, perjalanan sejarah juga dapat menghadirkan beragam versi akibat perbedaan sumber, sudut pandang, maupun penafsiran antargenerasi. Karena itu, pelajar dinilai perlu memiliki kecakapan untuk membandingkan informasi, mendatangi saksi, serta menelusuri keterangan dari pelaku sejarah agar materi yang mereka hasilkan memiliki dasar yang kuat.
Mahyunadi mencontohkan perjalanan Kutai Timur hingga menjadi daerah otonom sebagai salah satu tema yang dapat digali lebih dalam. Menurutnya, sejarah daerah tidak seharusnya berhenti pada catatan mengenai waktu pembentukan kabupaten. Pelajar juga dapat menelusuri perubahan sosial, adat dan budaya, kedatangan masyarakat dari berbagai daerah, perkembangan permukiman, hingga peran tokoh lokal dalam membentuk Kutai Timur seperti sekarang.
“Sejarah hari ini menjadi penting. Kita perlu melihat bagaimana originalitas sejarah itu, bagaimana sumbernya, kemudian bagaimana sejarah tersebut disampaikan dengan baik dan benar,” ujarnya.
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih utuh, peserta didorong mendatangi tokoh masyarakat, tetua adat, maupun warga yang mengetahui perjalanan Sangatta dan daerah lain di Kutai Timur. Informasi lisan dari mereka dapat menjadi pintu awal untuk memahami perkembangan wilayah, sepanjang tetap dibandingkan dengan sumber lain agar akurasi sejarah tetap terjaga.
“Silakan temui tokoh-tokoh dan orang-orang tua di Sangatta yang masih ada. Dari sana bisa ditelusuri bagaimana sejarah wilayah ini, bagaimana masyarakat datang, bagaimana mereka kemudian berkolaborasi dan membentuk Kutai Timur seperti saat ini,” katanya.
Keragaman masyarakat juga dinilai menjadi bagian penting dari cerita Kutai Timur. Pertemuan antara penduduk asli dan masyarakat pendatang dari berbagai latar belakang melahirkan dinamika sosial yang dapat direkam sebagai bagian dari sejarah lokal. Mahyunadi berharap pelajar tidak hanya menjadi penikmat cerita masa lalu, tetapi ikut berperan menulis dan menjelaskan perjalanan daerah kepada generasi berikutnya.
“Saya berharap suatu saat kita yang menerangkan sejarah baru terhadap Kutai Timur. Hari ini menjadi peserta workshop storytelling sejarah lokal, mungkin besok bisa menjadi ahli sejarah, menjadi orang yang menulis dan menerangkan perjalanan Kutai Timur,” ujarnya.
Kepala Disdikbud Kutai Timur Mulyono mengatakan perkembangan teknologi telah membuka ruang baru bagi pelestarian sejarah dan kebudayaan. Penyampaian sejarah kini tidak lagi bergantung sepenuhnya pada buku, museum, maupun ruang belajar formal. Media sosial memungkinkan cerita lokal menjangkau masyarakat secara lebih cepat, luas, dan interaktif.
“Sekarang ini era digital. Storytelling dan konten digital bisa menjadi sarana untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain melalui kata, gambar maupun bentuk lainnya. Konten juga bisa dibuat melalui media sosial seperti TikTok dan sebagainya,” kata Mulyono.
Menurutnya, Kutai Timur memiliki banyak bahan yang dapat diolah menjadi konten edukatif, mulai dari situs bersejarah, warisan budaya benda dan tak benda, ritual masyarakat, pesta adat, hingga berbagai tradisi lokal. Apabila dikemas secara kreatif dan tetap berpijak pada sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, kekayaan tersebut dapat semakin mudah dikenali masyarakat.
“Melalui kegiatan hari ini, kita ingin mengembangkan dan mengangkat sejarah lokal Kutai Timur melalui konten digital dan storytelling. Ke depan juga bisa dikembangkan untuk mempromosikan sejarah, pesta-pesta adat hingga pariwisata yang ada di Kutai Timur,” jelasnya.
Pengemasan sejarah melalui platform digital juga berpotensi memberikan dampak lebih luas. Selain membantu menjaga identitas daerah, konten sejarah dan budaya dapat mendukung promosi wisata serta membuka peluang bagi berkembangnya sektor ekonomi kreatif. Anak muda memiliki posisi strategis karena menjadi kelompok yang paling akrab dengan media sosial, fotografi, video pendek, podcast, dan berbagai medium digital lainnya.
“Harapan kita tentu kegiatan ini menjadi cikal bakal. Kita kembangkan terus. Kita angkat sejarah lokal Kutai Timur melalui konten digital dan storytelling sehingga nantinya memberi dampak lebih luas kepada masyarakat,” katanya.
Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutai Timur Ilham menjelaskan workshop tersebut merupakan bagian dari program bidang kebudayaan tahun 2026 sekaligus langkah untuk mendukung upaya pelestarian dan pemajuan kebudayaan. Pada tahap awal, kegiatan diikuti 15 peserta dari berbagai sekolah di Sangatta Utara, Sangatta Selatan, dan Sangkulirang.
Sekolah yang terlibat antara lain SMAN 1 Sangatta Utara, SMAN 2 Sangatta Utara, SMKN 1 Sangatta Utara, SMKN 2 Sangatta Utara, SMA YPPSB, SMA IT Darussalam, SMK Muhammadiyah Sangatta Utara, serta sekolah dari Sangatta Selatan dan Sangkulirang. Disdikbud berharap cakupan program dapat diperluas pada pelaksanaan berikutnya.
“Untuk tahun ini baru 15 peserta. Harapan kami ke depan jumlah ini bisa bertambah menjadi lebih banyak,” ujarnya.
Ilham juga melihat peluang agar pembelajaran storytelling sejarah lokal tidak hanya menyasar pelajar tingkat atas. Dengan metode yang disesuaikan, pengenalan sejarah dan budaya daerah dinilai dapat mulai diberikan kepada anak sejak tingkat pendidikan dasar.
“Harapan kami kegiatan storytelling ini menjadi awal kita bersama. Mungkin sekarang di jenjang SMA, nanti juga bisa dikembangkan ke jenjang SMP bahkan SD,” katanya.
Di tengah derasnya arus informasi digital, penguatan pengetahuan mengenai sejarah lokal menjadi semakin penting. Generasi muda dapat dengan mudah mengenal budaya dan tren dari berbagai belahan dunia, tetapi pada saat bersamaan berisiko semakin jauh dari kisah daerahnya sendiri apabila tidak tersedia ruang belajar yang menarik dan relevan.
Karena itu, sejarah Kutai Timur dapat disampaikan melalui format yang lebih dekat dengan keseharian generasi digital, seperti video pendek, dokumenter, podcast, fotografi, artikel, maupun konten multimedia. Dengan pendekatan tersebut, sejarah tidak hanya tersimpan di ruang arsip, melainkan dapat hadir di layar gawai dan menjadi bagian dari percakapan publik.
“Saya berharap kegiatan ini benar-benar dimaknai dan diikuti dengan bersungguh-sungguh. Kepada narasumber, saya juga berharap bisa menyajikan metode bagaimana menggali sejarah daerah dengan baik dan benar, termasuk metode pengumpulan data dan sumber,” katanya.
Melalui Workshop Storytelling dan Digital Content Sejarah Lokal, Pemkab Kutai Timur berharap muncul generasi muda yang tidak hanya terampil memanfaatkan teknologi, tetapi juga memiliki kesadaran untuk menjaga identitas daerah. Pelajar diharapkan mampu menjadi penghubung antara cerita masa lalu dan generasi mendatang sehingga sejarah Kutai Timur tetap tercatat, dikenal, serta diwariskan secara berkelanjutan.



