Kutim – Di tengah pandangan bahwa bertani identik dengan pekerjaan berat dan kerap dipandang sebelah mata, hamparan kebun kelapa di kawasan Sangatta justru menghadirkan cerita berbeda. Deretan pohon kelapa genjah entog tumbuh berjajar rapi, batangnya ramping menyerupai pulpen, namun menghasilkan buah melimpah. Di balik kebun itu, tersimpan keyakinan bahwa agrikultur bukan lagi sekadar pekerjaan tradisional, melainkan bisnis modern dengan prospek menggiurkan.

Mantan Bupati Kutai Timur sekaligus Wakil Ketua DPD RI, Mahyudin menjadi salah satu figur yang menaruh harapan besar pada sektor pertanian berbasis komoditas unggulan. Pria kelahiran Tanjung, Tabalong, Kalimantan Selatan, 8 Juni 1970 tersebut kini fokus mengembangkan budidaya kelapa genjah entog asal Kebumen di kawasan Sangatta. Varietas ini dipilih bukan tanpa alasan, sebab dikenal produktif, cepat panen, serta memiliki nilai ekonomi tinggi.

Kelapa genjah entog memiliki ciri khas pada bentuk batangnya yang kecil dan pendek, bahkan kerap diibaratkan seperti pulpen. Tinggi pohon yang tidak menjulang membuat proses pemanenan jauh lebih mudah dibanding kelapa biasa. Selain itu, jenis ini sangat diminati untuk kebutuhan air kelapa muda dan produksi nira yang memiliki pasar cukup luas.

Saya menanam 16 ribu pohon kelapa di lahan 8 hektare,” ujar Mahyudin saat menggambarkan investasi pertaniannya.

Dia lahan tersebut, pohon ditanam dengan pola jarak sekitar tujuh meter antar tanaman. Pengaturan itu dilakukan agar pertumbuhan akar dan tajuk pohon lebih optimal, sekaligus mempermudah perawatan. Menurut Mahyudin, investasi di sektor pertanian perlu dikelola secara profesional dan menggunakan pendekatan bisnis agar hasilnya maksimal.

Ia menilai generasi muda perlu mengubah cara pandang terhadap dunia pertanian. Bagi Mahyudin, profesi petani justru dapat menjadi sumber kesejahteraan apabila digarap dengan serius dan berbasis perhitungan ekonomi.

Saya berharap pemuda jangan malu menjadi petani,” kata mantan Wakil Ketua MPR RI 2014-2019 ini.

Kelapa genjah entog disebut memiliki produktivitas jauh lebih tinggi dibanding varietas kelapa biasa. Dalam kondisi baik, satu pohon mampu menghasilkan sekitar 60 hingga 160 butir per tahun, tergantung usia tanaman, kualitas bibit, dan pola perawatan. Untuk jenis genjah entog Kebumen, angka produksi bahkan bisa mencapai sekitar 140 butir per pohon setiap tahun.

Keunggulan lain dari tanaman ini ialah masa panen yang relatif cepat. Jika kelapa konvensional memerlukan waktu cukup panjang untuk berbuah, kelapa genjah sudah mulai menghasilkan sejak usia tiga hingga lima tahun. Faktor ini membuatnya menjadi salah satu komoditas yang dilirik pelaku agribisnis.

Mahyudin pun menggambarkan potensi ekonomi yang bisa diperoleh dari usaha tersebut. Dengan asumsi satu pohon menghasilkan hingga 160 butir dan harga jual per butir berada di kisaran Rp10 ribu, peluang omzet dari 16 ribu pohon disebut dapat mencapai sekitar Rp25,6 miliar dalam satu periode produksi.

Potensi ini luar biasa, sangat menggiurkan,” ungkapnya saat menjelaskan hitungan bisnis kelapa genjah.

Selain produktivitas tinggi, tanaman ini juga dikenal minim perawatan sehingga lebih efisien dari sisi biaya operasional. Kondisi itu membuat budidaya kelapa genjah entog dinilai cocok dikembangkan di wilayah dengan potensi lahan luas seperti Kutai Timur.

Di tengah derasnya arus modernisasi, kebun kelapa Mahyudin di Sangatta menjadi gambaran bahwa sektor pertanian masih menyimpan masa depan cerah. Dari pohon-pohon yang tumbuh tidak terlalu tinggi itu, terselip pesan sederhana: menjadi petani bukan lagi soal pekerjaan pinggiran, tetapi tentang keberanian membaca peluang zaman.

Silakan Bekomentar
Share.
Exit mobile version