Samarinda – Upaya Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dalam menurunkan angka stunting semakin terstruktur. Melalui Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB), kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) digelar di Hotel Grand Kartika, Samarinda, Kamis (14/11/2024), guna memperkuat pengelolaan Kampung Keluarga Berkualitas (KB) di tingkat desa.
Kegiatan ini diikuti oleh 70 peserta dari berbagai Kampung KB yang telah terbentuk di Kutim, termasuk sejumlah kepala desa dan istri mereka. Tujuannya, menurut Kepala DPPKB Kutim, Achmad Junaidi, adalah memastikan pengelola Kampung KB mampu memberikan pelayanan optimal dalam pencegahan stunting dan perbaikan gizi masyarakat.
“Setelah mengikuti Bimtek ini, para pengelola Kampung KB diharapkan dapat memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat,” ujar Junaidi.
Dua program utama yang ditekankan dalam pelatihan ini adalah Program Rumah Data dan Dapur Dahsyat. Rumah Data menjadi pusat pengelolaan informasi keluarga secara terstruktur, sementara Dapur Dahsyat bertugas memastikan pemantauan gizi anak-anak, khususnya yang terindikasi stunting.
“Program Dapur Dahsyat sangat relevan untuk memenuhi standar gizi bagi anak-anak yang berisiko,” jelas Junaidi, menambahkan bahwa intervensi di tingkat keluarga sangat penting untuk menekan angka stunting secara signifikan.
Saat ini, Kutai Timur telah membentuk 128 Kampung KB, dan ditargetkan seluruh desa di Kutim memiliki Kampung KB yang aktif pada 2025. Menurut Junaidi, antusiasme peserta dan keterlibatan kepala desa menjadi sinyal positif bahwa program ini mulai mendapat perhatian di tingkat akar rumput.
Tak hanya penguatan kapasitas SDM, DPPKB Kutim juga mendorong pemanfaatan Dana Desa dan Alokasi Dana Desa (ADD) untuk mendukung program Kampung KB. “Dana desa harus digunakan secara tepat sasaran, mendukung kegiatan yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat,” ungkap Junaidi.
Ia menegaskan bahwa Bimtek ini bukan kegiatan sekali selesai, tetapi harus berkelanjutan untuk memastikan program berjalan dengan maksimal di lapangan. “Kami tidak ingin Kampung KB hanya sekadar ada dalam nama,” tegasnya.
Penurunan angka stunting merupakan program prioritas Pemkab Kutim. Junaidi menekankan bahwa sinergi lintas sektor—antara pemerintah, masyarakat, dan pengelola Kampung KB—menjadi kunci keberhasilan.
“Dengan sinergi ini, kami berharap angka stunting di Kutai Timur dapat terus berkurang,” tutupnya.
Melalui Bimtek ini, Kutim kembali menegaskan komitmennya dalam memperkuat Kampung KB sebagai garda depan perbaikan kualitas keluarga, terutama dalam menjaga kesehatan dan gizi anak-anak secara berkelanjutan.




