Sangatta – “Langkah kecil, lompatan besar,” bisa menggambarkan upaya Disdikbud Kutim mendorong transformasi digital dunia pendidikan: sebanyak sekitar 750 guru dari berbagai jenjang telah menyelesaikan pelatihan dasar Google Workspace for Education Level 0 sebagai fondasi literasi digital di wilayah ini.
Pelatihan ini digelar dalam empat batch atau angkatan, menurut penjelasan Irma Yuwinda selaku Sekretaris Disdikbud Kutim. Selama pelatihan, para guru diperkenalkan pada konsep dasar penggunaan akun pembelajaran, pengenalan layanan Google Workspace, dan cara mengintegrasikan perangkat digital dalam proses mengajar di kelas. Tujuan utamanya bukan sekadar mengajari teknis penggunaan — tetapi juga mengubah mindset agar teknologi menjadi bagian dari keseharian mengajar.
“Level 0 sudah kemarin empat batch target sekitar 750 orang tenaga pendidik,” ujar Irma di Kantor Bupati Kutim, Jumat (14/11/2025).
Dalam tahap awal ini, guru mendapatkan bekal dasar tentang Google Workspace for Education — termasuk penggunaan aplikasi seperti Google Form, Google Sheet, Google Drive, serta layanan kolaborasi online yang memudahkan proses belajar‑mengajar. Pelatihan juga menekankan pentingnya perubahan pola pikir: agar guru terbiasa memanfaatkan teknologi secara aktif dalam kegiatan pembelajaran.
Program Level 0 ini sekaligus menjadi pintu masuk untuk menyaring guru‑guru berpotensi melanjutkan ke tingkat berikutnya: peserta akan dipilih berdasarkan hasil post‑test dan observasi pelatihan, untuk mengikuti bimbingan teknis lanjutan (level lebih tinggi).
Inisiatif ini merupakan bagian dari persiapan Disdikbud Kutim dalam menetapkan sejumlah sekolah sebagai kandidat Sekolah Rujukan Google (KSRG). Di program tersebut, seluruh guru diwajibkan mengikuti Level 0, dan kemudian minimal 30 persen di antaranya harus lulus ke Level 1 agar sekolah bisa mendapatkan akreditasi digital.
Meski demikian, tantangan masih muncul terutama dari kesiapan sarana: setiap sekolah kandidat juga diharuskan menyediakan perangkat seperti Chromebook dan akses internet memadai agar proses pembelajaran digital bisa berjalan optimal.
Upaya ini — menurut Disdikbud Kutim — dinilai sangat penting, mengingat perkembangan teknologi yang semakin cepat dan perubahan kurikulum yang menuntut metode pembelajaran yang lebih interaktif, fleksibel, serta relevan dengan era digital. Pelatihan literasi digital untuk guru seperti ini dianggap sebagai pondasi agar proses belajar‑mengajar bisa lebih adaptif, modern, dan menyiapkan siswa menghadapi tantangan masa depan.
Langkah awal 750 guru ini menjadi sinyal bahwa Kutai Timur serius menyiapkan tenaga pendidik yang melek teknologi — sebagai modal penting agar pendidikan mampu mengikuti dinamika zaman. (ADV/AN/Diskominfo)


