Sangatta – Irama hadrah dan lantunan sholawat menggema dari Masjid Agung Al-Faruq, Rabu (19/11/2025), dalam rangkaian Pameran Sejarah Islam yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Timur. Lomba Habsyi menjadi magnet utama kegiatan, melibatkan kelompok pelajar dari tingkat junior hingga senior.
Suasana religius berpadu dengan nuansa seni islami terasa kuat saat para peserta menunjukkan kebolehan mereka dalam membawakan lagu-lagu sholawat dengan iringan rebana. Lomba ini diikuti oleh berbagai lembaga pendidikan Islam di Kutai Timur, dengan penampilan yang dinilai berdasarkan kekompakan, vokal, harmonisasi, dan penghayatan pesan dakwah.
Padliyansyah, Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutim, menyampaikan bahwa lomba ini bukan hanya ajang kompetisi, tapi juga sarana untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap seni islami.
“Kami ingin anak-anak bisa menyampaikan nilai-nilai Islam tidak hanya lewat ceramah, tapi juga melalui media seni suara yang indah seperti habsyi ini,” jelas Padliyansyah di tengah berlangsungnya acara.
Ia juga menambahkan bahwa Pameran Sejarah Islam tahun ini memang dirancang untuk menyentuh berbagai aspek—visual, intelektual, dan emosional—agar lebih berkesan bagi peserta didik.
Pada kategori senior, grup Syababul Khair berhasil menyabet Juara I dengan nilai tertinggi 99,5. Diikuti oleh Raudhatul Anshor yang menempati posisi Juara II dengan nilai 96,5 dan Syfaul Qolbi sebagai Juara III dengan nilai 94.
Sementara di kategori junior, Juara I diraih oleh MT. Raudhatul Anshor Junior. Posisi Juara II ditempati oleh MTS PIQ Sangatta dengan nilai 96,5, dan MIN 1 Kutim sebagai Juara III dengan nilai 95.
Penampilan para peserta dinilai telah menunjukkan kualitas vokal dan kekompakan yang mengesankan, menjadikan lomba ini sebagai salah satu penampilan paling ditunggu dalam rangkaian kegiatan.
Dengan antusiasme tinggi dari peserta dan penonton, lomba Habsyi ini membuktikan bahwa dakwah bisa disampaikan secara menyentuh melalui medium seni yang akrab dengan generasi muda. Disdikbud Kutim pun berkomitmen untuk terus mendukung kegiatan serupa dalam upaya memperkuat karakter religius dan budaya lokal di kalangan pelajar. (ADV/DN/Diskominfo).




