Sangatta – Sebagai upaya melestarikan budaya dan memperkuat identitas bangsa, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menggelar Festival Adat Tradisi dan Kuliner Nusantara. Acara yang berlangsung dari tanggal 2 hingga 24 November 2024 ini mengangkat keberagaman seni, adat, dan kuliner dari seluruh penjuru Indonesia.
Festival ini tidak hanya menjadi ajang pertemuan budaya tetapi juga ruang bagi masyarakat untuk mengeksplorasi cita rasa khas Nusantara. Kabid Kebudayaan Disdikbud Kutim, Padliyansyah, mengatakan bahwa acara ini dirancang sebagai bentuk nyata komitmen pemerintah dalam merawat warisan budaya.
“Melalui festival ini, kami menghadirkan keberagaman budaya dan kuliner dari berbagai daerah. Kami ingin masyarakat Kutim merasakan langsung kekayaan budaya Indonesia yang tak hanya berupa seni, tetapi juga makanan khas,” ujar Padliyansyah.
Makanan Khas Nusantara Menjadi Primadona
Salah satu daya tarik utama festival ini adalah sajian kuliner khas dari berbagai daerah di Indonesia. Dalam festival ini, sebanyak 25 pelaku UMKM turut serta memperkenalkan makanan khas dari daerah masing-masing. Pemerintah menyediakan tenda atau booth untuk menampilkan sajian mereka kepada pengunjung.
Beragam makanan khas seperti Rendang dari Sumatra Barat, Papeda dari Papua, Coto Makassar dari Sulawesi Selatan, hingga Nasi Liwet dari Jawa Tengah memenuhi area festival. Setiap booth dihias dengan ornamen tradisional yang merepresentasikan daerah asal masing-masing, menciptakan atmosfer yang otentik dan meriah.
“Ini adalah pengalaman yang luar biasa. Saya bisa mencicipi makanan dari berbagai daerah tanpa harus pergi jauh-jauh,” kata Yulia, salah satu pengunjung festival.
Keterlibatan Paguyuban dan Komunitas Adat
Tidak hanya kuliner, festival ini juga melibatkan 15 paguyuban adat dan lima komunitas budaya yang menampilkan seni tradisional seperti tarian daerah, musik etnik, hingga pertunjukan teater adat. Kehadiran paguyuban ini semakin memperkaya atmosfer festival, menggabungkan cita rasa kuliner dengan seni budaya yang memikat.
Setiap paguyuban tidak hanya menampilkan seni tetapi juga ikut memperkenalkan makanan khas daerahnya. Kolaborasi antara seni dan kuliner ini memberikan pengalaman lengkap bagi para pengunjung.
Antusiasme Pengunjung yang Tinggi
Festival ini menjadi magnet bagi masyarakat Kutim, dengan jumlah pengunjung yang mencapai 500-800 orang per hari. Masyarakat dari berbagai kalangan hadir untuk menikmati sajian budaya dan kuliner yang disuguhkan.
“Saya datang bersama keluarga untuk melihat pertunjukan seni dan mencoba makanan tradisional. Ini adalah acara yang sangat menyenangkan, terutama bagi anak-anak untuk belajar tentang budaya Indonesia,” ujar Iwan, salah satu pengunjung.
Kehadiran masyarakat yang membludak ini membuktikan tingginya minat terhadap acara yang mengangkat nilai-nilai budaya.
Kompetisi Kuliner dan Tradisi Menambah Semarak
Untuk menambah semarak acara, panitia juga menggelar dua kompetisi, yaitu lomba memasak makanan tradisional dan lomba seni pertunjukan antar-paguyuban. Kompetisi ini menjadi ajang unjuk kreativitas sekaligus edukasi bagi masyarakat tentang pentingnya melestarikan budaya tradisional.
“Melalui kompetisi ini, kami ingin mendorong masyarakat untuk lebih mencintai budaya dan kuliner tradisional. Ini adalah cara kami mengedukasi sekaligus menghibur,” ungkap Padliyansyah.
Puncak Acara: Kompilasi Budaya Nusantara
Puncak acara festival ini berlangsung pada 9 hingga 11 November, yang menampilkan kompilasi budaya dari tiga wilayah besar Indonesia: Indonesia Timur, Indonesia Tengah, dan Indonesia Barat.
Parade seni dimulai dengan tarian dan musik khas Papua serta Nusa Tenggara Timur, dilanjutkan dengan seni gamelan dan tarian Maengket dari Indonesia Tengah, dan ditutup dengan pertunjukan Reog Ponorogo serta tingkilan khas Kutai.
Selain pertunjukan seni, setiap daerah juga menyajikan makanan khas mereka, menciptakan harmoni antara budaya dan kuliner yang menjadi ciri khas Nusantara.
Pemerintah dan Masyarakat Bersama Melestarikan Budaya
Festival Adat Tradisi dan Kuliner Nusantara di Kutim menjadi bukti nyata sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam melestarikan warisan budaya. Padliyansyah menegaskan bahwa acara ini tidak hanya bertujuan sebagai hiburan, tetapi juga edukasi budaya yang dapat mempererat rasa persatuan.
“Kami berharap festival ini dapat menjadi agenda tahunan yang dinanti-nanti oleh masyarakat. Selain menjadi ruang untuk belajar dan bersenang-senang, festival ini juga menjadi wujud nyata pelestarian budaya sebagai jati diri bangsa,” katanya.
Kesimpulan: Perayaan yang Penuh Makna
Festival ini menunjukkan bagaimana seni dan kuliner bisa menjadi media untuk mempererat persatuan di tengah keberagaman. Dengan melibatkan UMKM, paguyuban adat, dan komunitas budaya, acara ini menjadi ruang untuk belajar, berbagi, dan merayakan kekayaan budaya Nusantara.
Di tengah modernisasi yang terus berkembang, festival seperti ini menjadi pengingat bahwa warisan budaya adalah identitas yang harus dijaga. Semoga kegiatan ini terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk melakukan hal serupa demi menjaga keberagaman budaya Indonesia




