Sangatta – Upaya Pemerintah Kabupaten Kutai Timur untuk menekan penyebaran Tuberkulosis (TBC) terus dilakukan secara masif. Melalui Dinas Kesehatan (Dinkes), program investigasi kontak menjadi ujung tombak dalam mendeteksi penularan penyakit ini, termasuk jenis TBC resisten obat (TBC RO) yang memerlukan perhatian khusus.
Sumarno, Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Kutim, menyampaikan bahwa langkah investigasi ini telah menjangkau wilayah yang lebih luas, mulai dari Sangatta Utara dan Selatan hingga ke Rantau Pulung, Bengalon, Kongbeng, dan Muara Bengkal.
“Kasus kontak itu, misalnya ada pasien TBC, maka kita cari 10 sampai 15 orang di sekitarnya yang mungkin sudah tertular. Kita skrining siapa tahu ada yang terdeteksi, supaya bisa segera diobati,” jelasnya saat diwawancarai di ruang kerjanya, Selasa (18/11/2025).
Ia mengungkapkan saat ini terdapat tiga pasien TBC RO yang sedang dalam pendampingan, masing-masing berasal dari Sangatta Utara, Teluk Lingga, dan Kongbeng. Pasien dengan jenis ini membutuhkan pemantauan dan pengobatan lebih ketat agar tidak terjadi putus obat yang berisiko meningkatkan resistensi.
“Mudah-mudahan seluruh wilayah Kutim bisa dijangkau investigasi kontak. Dan harapannya, bukan hanya Dinkes dan puskesmas yang aktif, tapi juga didukung oleh kader-kader dan elemen masyarakat lainnya,” harap Sumarno.
Ia menambahkan, pendekatan TBC RO tidak cukup hanya dengan pengobatan medis. Perlu dukungan moral dan kedisiplinan dari pasien agar tetap menjalani pengobatan hingga tuntas.
“Makanya kita libatkan kader PMO (Pengawas Menelan Obat), para petugas lapangan, dan orang-orang di sekitar pasien untuk memberikan motivasi. Ini adalah kerja bersama, bukan hanya tanggung jawab dinas,” tegasnya.
Langkah Dinkes Kutim ini juga sejalan dengan strategi nasional eliminasi TBC 2030. Pemerintah daerah terus memperkuat kapasitas SDM, fasilitas layanan kesehatan, serta membuka ruang partisipasi masyarakat untuk menciptakan jejaring responsif dalam pengendalian TBC.
Dengan ekspansi cakupan investigasi dan dukungan lintas sektor, Dinkes Kutim optimis angka kasus TBC, termasuk TBC RO, dapat ditekan secara signifikan dalam beberapa tahun mendatang. (ADV).


