Kutim – Mencetak generasi penghafal Al-Qur’an kini menjadi ikhtiar baru yang tumbuh di Sangatta. Pondok Pesantren Hifzhul Qur’an Darul Abrar Sangatta melalui Darul Abrar Islamic Boarding School (DAIBS) mulai menjalankan program pendidikan berasrama yang secara khusus berfokus pada tahfiz Al-Qur’an, dengan target santri mampu menyelesaikan hafalan 30 juz selama menjalani pendidikan setingkat SMP.
Program tersebut mulai berjalan sejak Agustus 2026 dan telah diikuti santri mukim. Selain pembelajaran Al-Qur’an, pihak pesantren menyediakan lingkungan berasrama dengan sejumlah fasilitas penunjang agar santri dapat lebih fokus mengikuti proses pendidikan dan hafalan.
Pembina Darul Abrar Islamic Boarding School, Anwar Arifin, mengatakan program utama yang dikembangkan saat ini adalah tahfiz Al-Qur’an. Para santri tinggal di lingkungan pesantren sehingga aktivitas pendidikan, pembinaan dan proses menghafal dapat berlangsung lebih terarah.
“Alhamdulillah tahun ini sudah dimulai bulan Agustus kemarin. Kami sudah ada santri dan programnya khusus tahfiz Al-Qur’an. Jadi namanya Pondok Pesantren Hifzhul Qur’an Darul Abrar Sangatta atau disingkat DAIBS, Darul Abrar Islamic Boarding School,” kata Anwar Arifin.
Menurut Anwar, konsep pendidikan berasrama dipilih untuk menciptakan lingkungan yang mendukung konsentrasi santri selama mengikuti program tahfiz. Pesantren menyediakan ruang belajar, aula hingga masjid yang dapat digunakan untuk kegiatan keagamaan dan pembinaan hafalan.
“Santri ini mondok, diasramakan. Alhamdulillah dengan fasilitas yang nyaman. Jadi anak-anak santri bisa menghafal dengan ruangan, ada aula, ada masjid full AC,” ujarnya.
Fasilitas tempat tinggal santri juga diatur agar kapasitas setiap kamar tidak terlalu padat. Menurut Anwar, satu kamar ditempati sekitar 10 santri dengan dukungan fasilitas dasar untuk kebutuhan mereka selama mondok.
“Kemudian kamarnya dibatasi, santri satu kamar 10 santri. Sudah dilengkapi dengan fasilitas tempat tidur, kasur, lemari dan WC,” jelasnya.
Dari sisi kurikulum, Darul Abrar memprioritaskan pendidikan pesantren berbasis tahfiz Al-Qur’an. Sementara untuk pendidikan formal, santri diarahkan mengikuti program kesetaraan sesuai jenjang pendidikan yang ditempuh.
Program tersebut menyasar lulusan sekolah dasar yang ingin melanjutkan pendidikan setingkat SMP sekaligus mendalami hafalan Al-Qur’an. Selama tiga tahun masa pembinaan, pesantren memasang target agar santri dapat menyelesaikan hafalan hingga 30 juz.
“Karena mengarah ke program tahfiz untuk kepesantrenannya. Kemudian pendidikan formal itu kesetaraan. Jadi jenjang SMP, siswa yang lulusan SD siap masuk mondok, dengan target tiga tahun mudah-mudahan bisa, dengan SMP khatam 30 juz,” kata Anwar.
Target tersebut menjadi salah satu ciri utama pendidikan yang ditawarkan. Waktu santri selama berada di asrama akan diarahkan pada kegiatan pembelajaran dan penguatan hafalan, sehingga terdapat proses yang berkelanjutan antara pendidikan, pembiasaan ibadah dan kehidupan sehari-hari di lingkungan pesantren.
Saat ini, menurut Anwar, Darul Abrar tidak hanya membina santri yang menetap di asrama. Terdapat pula puluhan santri yang mengikuti pendidikan Al-Qur’an tanpa tinggal di pesantren.
“Alhamdulillah santri kami yang tidak mukim, TK-TPA ada 50. Kemudian yang mukim ini ada 10-an,” ujarnya.
Jumlah santri mukim tersebut menjadi angkatan awal program yang dikembangkan Darul Abrar. Seiring berjalannya proses pendidikan, pesantren membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin memasukkan anak-anak mereka ke dalam program tahfiz berasrama.
Pihak pesantren juga memberikan keringanan terhadap sejumlah komponen biaya pendidikan. Anwar menyampaikan biaya fasilitas gedung dan sejumlah biaya awal dibebaskan, sehingga orang tua santri terutama menanggung kebutuhan konsumsi serta seragam.
“Alhamdulillah biaya fasilitas, biaya gedung dibebaskan dan juga yang lain-lain seperti registrasi pendaftaran. Intinya santri hanya biaya untuk kebutuhan makan dan seragam,” katanya.
Selain tempat tinggal dan kebutuhan pendidikan, pihak pesantren juga menyediakan layanan untuk mendukung aktivitas harian santri. Salah satunya berupa layanan pencucian pakaian agar santri dapat lebih banyak memanfaatkan waktunya untuk belajar serta mengikuti kegiatan pesantren.
“Anak-anak juga dilondrikan, jadi insyaallah siap belajar,” ujar Anwar.
Program tersebut terbuka untuk masyarakat umum. Calon santri yang saat ini berada di kelas VI sekolah dasar juga sudah dapat mempersiapkan diri untuk mengikuti penerimaan santri pada tahun ajaran berikutnya.
Menurut Anwar, keberadaan lingkungan pendidikan yang nyaman menjadi salah satu hal yang ingin ditawarkan kepada orang tua. Pesantren berharap santri tidak hanya mengejar jumlah hafalan, tetapi dapat menjalani proses pendidikan secara disiplin dalam lingkungan yang mendukung pembentukan kebiasaan belajar dan kehidupan keagamaan.
Pembukaan program tahfiz berasrama juga memperluas pilihan pendidikan keagamaan bagi keluarga di Sangatta dan sekitarnya. Orang tua yang ingin anaknya melanjutkan pendidikan setingkat SMP sekaligus mengikuti pembinaan intensif menghafal Al-Qur’an memiliki alternatif pendidikan melalui konsep boarding school tersebut.
Dengan sistem asrama, interaksi antara santri dan pembina dapat berlangsung lebih intensif dibandingkan pembelajaran yang hanya dilakukan beberapa jam sehari. Pola tersebut diharapkan membantu santri menjaga ritme hafalan, melakukan pengulangan atau murajaah serta membangun disiplin dalam menyelesaikan target yang telah ditetapkan.
Keberadaan santri usia sekolah juga membuat pesantren tidak hanya menghadapi tantangan mengejar target hafalan. Pembinaan karakter, kedisiplinan dan kemampuan santri menjalani kehidupan secara mandiri menjadi bagian yang berjalan bersamaan selama mereka tinggal di asrama.
Darul Abrar pun masih membuka ruang bagi pertumbuhan jumlah santri. Dengan dimulainya angkatan mukim sejak Agustus 2026, program tersebut menjadi tahap awal pengembangan pendidikan tahfiz yang menggabungkan pembinaan pesantren dengan pendidikan setingkat SMP.
Anwar berharap fasilitas dan pola pembinaan yang telah disiapkan dapat memberikan suasana belajar yang nyaman bagi santri. Masyarakat, khususnya orang tua yang memiliki anak kelas VI SD, juga dipersilakan mempertimbangkan program tersebut untuk melanjutkan pendidikan pada tahun berikutnya.
Melalui target hafalan 30 juz dalam tiga tahun, Darul Abrar Islamic Boarding School membawa misi menjadikan masa pendidikan setingkat SMP sebagai periode penting untuk membangun kedekatan santri dengan Al-Qur’an. Program yang baru dimulai itu sekaligus menjadi upaya menambah ruang pendidikan tahfiz bagi generasi muda di Kutai Timur.



