Batu Ampar – Tim pakar Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) bergabung dalam kunjungan kerja Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kutai Timur (Kutim) ke 18 kecamatan. Kolaborasi ini bertujuan memperkuat intervensi psikologis dan sosial terhadap keluarga berisiko stunting, mengingat permasalahan ini tak hanya terkait gizi, tetapi juga perkembangan mental dan emosional anak.

Rachma Shinta Merina, S.Psi., M.Psi., psikolog klinis dari Himpsi, menekankan bahwa stunting adalah isu multidimensi yang membutuhkan sinergi berbagai pihak.

“Kami berterima kasih atas kesempatan berkontribusi di Kutim dan siap mendukung penuh upaya ini,” ujar Rachma usai kegiatan bedah angka stunting di Kantor Desa Batu Timbau Ulu, Kecamatan Batu Ampar, Kamis (27/2/2025).

Menurutnya, stunting berdampak tidak hanya pada pertumbuhan fisik, tetapi juga perkembangan kognitif, emosional, motorik, dan kemampuan sosialisasi anak.

“Anak stunting berisiko mengalami kesulitan belajar, gangguan emosi, dan hambatan dalam bersosialisasi. Ini dapat memengaruhi kualitas hidup mereka di masa depan,” jelas Rachma.

Selain itu, kondisi ini juga berpotensi menimbulkan stres bagi orang tua, yang pada akhirnya dapat mengganggu keharmonisan keluarga.

“Ketika anak mengalami gangguan tumbuh kembang, stres orang tua bisa meningkat, yang berpotensi memicu ketidakharmonisan dalam rumah tangga,” tambahnya.

Untuk itu, Himpsi mendorong pentingnya Deteksi Dini Tumbuh Kembang (DDTK) bagi anak usia 4 hingga 60 bulan guna mengidentifikasi potensi penyimpangan perkembangan sejak dini.

“DDTK membantu menemukan masalah lebih awal, sehingga intervensi bisa segera dilakukan,” paparnya.

Selain itu, faktor psikologis ibu selama kehamilan dan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) juga menjadi perhatian utama.

“Penerimaan ibu terhadap kehamilan dengan perasaan bahagia akan berdampak pada pola asuh yang lebih optimal. Edukasi tentang ASI, MPASI, serta pola asuh yang benar harus terus diperkuat,” tegasnya.

Himpsi juga mengusulkan konseling pranikah sebagai langkah preventif, agar calon orang tua memahami pentingnya kesiapan mental dan fisik sebelum memiliki anak.

Menanggapi hal ini, Sekretaris TPPS Kutim, Achmad Junaidi B, menyambut baik kontribusi Himpsi dalam penanganan stunting.

“Dukungan ahli psikologi melengkapi intervensi gizi dan kesehatan yang selama ini menjadi fokus kami,” ucapnya.

Dengan adanya kolaborasi ini, pemerintah berharap prevalensi stunting di Kutai Timur dapat menurun secara signifikan, sekaligus memastikan anak-anak tumbuh sehat baik secara fisik maupun mental.

Silakan Bekomentar
Share.
Exit mobile version